Belajar Malas: Sebuah Kekuatan untuk Sehat Mental

Yang saya tahu, ada yang terlalu rajin bekerja hingga tak punya waktu untuk bermalas-malasan. Tapi ada juga yang sebaliknya: terlalu bermalas-malasan hingga begitu sedikit waktu untuk rajin bekerja.

Namun ketika saya sedang bermalas-malasan, saya menyadari bahwa ternyata saya tidak benar-benar bermalas-malasan. Saya masih saja sibuk mengerjakan banyak hal. Mungkin tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja saya sibuk mengerjakan. Dan juga saya masih saja sibuk terhanyut oleh memori dan imajinasi pikiran sendiri.

Sejak kecil, saya diajari bahwa malas itu buruk. Saya dilarang keras malas. Tapi ternyata akhirnya saya menyadari bahwa malas tak sepenuhnya buruk.

Malas bisa jadi tanda bahwa tubuh dan pikiran saya butuh istirahat. Kalau saya abaikan dan terus sibuk bekerja, bisa-bisa yang jadi korban adalah kesehatan mental dan juga raga.

Malas bisa jadi sumber kreativitas. Saya jadi mencari cara yang hemat tenaga tapi tetap bisa produktif kerja. Saya menggunakan malas saya untuk mencari cara yang lebih baik untuk mengerjakan sesuatu.

Malas juga membuat saya enggan terlalu ikut campur hidup orang lain. Dan tentu saja juga jadi malas bertengkar. Kalau ada yang ngajak ribut, saya pun malas menerima ajakannya. Orang malas enggak suka keributan. Kemalasan bersahabat dengan perdamaian.

Akhirnya saya sadar, ada waktunya rajin bekerja. Ada waktunya pula bermalas-malasan. Belajar malas dengan penuh totalitas ternyata tak semudah yang saya bayangkan.

Ketika saya secara berkala bisa meluangkan waktu untuk benar-benar bermalas-malasan, mental saya juga bisa terawat sehat.

Sudahkah kamu belajar malas hari ini?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

2

Sebelumnya:
«