Banyak Pengetahuan, Penuh Kerumitan

Di zaman serba terkoneksi sekarang ini kita terlalu sering terpapar informasi. Begitu banyak pengetahuan yang kita temui. Kita bahkan sering berusaha memasukkan pengetahuan sebanyak mungkin ke dalam kepala.

Bukan hanya itu, tapi juga merasa semakin banyak pengetahuan yang kita koleksi, semakin hebat. Barangkali karena kita menganggap hidup ini sebatas perlombaan: yang lebih punya banyak pengetahuan, dialah yang menang.

Akibatnya, baik kita sadari maupun tidak, kita ini jadi sering mengadu pengetahuan yang kita miliki dengan pengetahuan orang lain. Semangat sekali kalau berdebat.

Padahal, ada dimensi yang lebih dalam daripada pengetahuan, yaitu kebijaksanaan. Untuk menyelami ini, kita perlu meluangkan waktu agar pikiran kita mengunyah, menelan, mencerna pengetahuan yang sudah kita dapatkan. Lalu kalau bisa, kita bagikan dan praktekkan dalam hidup sehari-hari, sehingga mewujud dalam ranah pengalaman. Lha kalau hanya soal banyak-banyakan pengetahuan, anak kecil saja lebih jago malah bisa menghafal begitu banyak teori.

Seperti kata Heraclitus: “Abundance of knowledge does not teach men to be wise.” Kurang lebih artinya: “Berlimpahnya pengetahuan tidak membuat seseorang jadi bijaksana.” Bahkan ada sebagian orang yang begitu pintar menjawab berbagai pertanyaan terkait pengetahuan, tapi hidup sehari-harinya penuh kerumitan.

Maka, belajarlah pengetahuan tak perlu berlebihan, sembari tetap meluangkan waktu untuk menyelami kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan membuat pengetahuan secukupnya yang kita punya lebih bernyawa. Bila sering membenci diri karena merasa pengetahuan yang dipunya selalu kurang, senantiasalah ingat: “Hidup bukan soal seberapa banyak pengetahuan yang kita koleksi, tapi soal sedalam apa kita menyelaminya hingga berbuah menjadi kebijaksanaan”.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

72