Bahagia, Memanjang dan Memendek

Saya pernah baca Kawruh Jiwa, Ki Ageng Suryomentaram berkata soal “Mulur mungkret” atau “Mengendur mengkerut / memanjang memendek”. Maksudnya gimana? Sebatas saya memahaminya begini…

Di saat keinginan kita terwujud maka kita cenderung “mulur”.

Misal pingin sebulan punya pendapatan 10 juta. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin sebulan 15 juta. Dan terus seperti itu.

Misal pingin punya posisi jadi asisten manager divisi tertentu. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin punya posisi jadi manager. Dan terus seperti itu.

Misal pingin punya pasangan. Pokoknya punya pasangan tanpa syarat apa-apa. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin punya pasangan yang begini begitu. Bahkan ketika itu terwujud, keinginannya kembali “mulur”, pingin punya pasangan lebih dari satu.

Nah kalau sebaliknya, di saat keinginan kita enggak terwujud gimana? Maka kita cenderung “mungkret”.

Misal pingin sebulan punya pendapatan 10 juta. Ketika enggak terwujud, sedih. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi sedih karena keinginannya “mungkret”, ya udahlah pingin sebulan 5 juta aja gak pa-pa, dipas-pasin.

Tapi di saat berhasil mendapatkan sebulan 5 juta, apa yang terjadi? Gembira, tapi ya hanya beberapa saat. Kenapa? Karena keinginannya “mulur”, Udah bisa dapat sebulan 5 juta, pingin sebulan 7 juta. Dan terus seperti itu.

Begitu pula kalau keinginan kita soal jabatan pekerjaan dan relasi pasangan tidak terwujud maka kita cenderung “mungkret”. Lalu “mulur” lagi. “Mungkret” lagi. Dan terus seperti itu.

Gembira dan sedih di hidup ini tidak ada yang selamanya. Gembira dan sedih hanya sementara. Kalau bahagia kita kaitkan pada rasa gembira dan sedih, kalau gembira, kita bahagia, kalau sedih kita enggak bahagia, maka kita akan terus terombang-ambing. Tak pernah bisa jenak.

Biar kita benar-benar menemukan bahagia, barangkali kita perlu berlatih hanya mengamati rasa gembira dan sedih. Layaknya kita duduk di pinggir sungai, dan hanya mengamati arus sungai kehidupan yang kadang gembira dan kadang sedih.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

57