5 Racun dalam Hubungan Cinta dan Obat Penawarnya

Foto: Allie Smith

Ketika itu, pergantian tahun baru saja berlalu. Seminggu setelah usai semua pesta kembang api dan riuh tawa, saya mendapat kabar seorang teman memutuskan berpisah dengan pasangannya. Padahal mereka berdua termasuk salah satu sepasang kekasih yang diidolakan banyak orang.

Saya rasa, hubungan cinta jadi mati seringkali dimulai dari racun-racun kecil yang menjalar pelan-pelan, yang luput dari perhatian. Sepertinya, saya perlu memberi tahu 5 contoh racun dalam hubungan cinta yang kerap terjadi beserta obat penawarnya:

1. Mengalihkan perhatian padahal ada masalah dalam hubungan

Racun ini terjadi ketika, daripada membicarakan baik-baik masalah yang sedang terjadi, kamu lebih memilih mengaburkan masalah itu dengan mengajak pasanganmu jalan-jalan atau membelikan hadiah yang sangat dia inginkan. Racun ini semakin menjadi-jadi karena masalahnya enggak terselesaikan, dan diam-diam malah semakin membesar. Layaknya bom waktu, bisa meledak sewaktu-waktu.

Obat penawar racun ini adalah: keberanian untuk membicarakan baik-baik masalah yang terjadi.

2. Menganggap hubungan cinta layaknya matematika

Racun ini terjadi ketika kamu sibuk menyalahkan kesalahan yang diperbuat pasanganmu di masa lalu, hingga dia merasa begitu bersalah. Lalu kamu menggunakan perasaan bersalahnya itu supaya dia memperbolehkanmu melakukan kesalahan yang serupa.

Obat penawar racun ini adalah: sebisa mungkin tidak gemar menghubung-hubungkan momen saat ini, di sini-kini, dengan kejadian di masa lalu.

3. Memposisikan pasangan sebagai orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kebahagiaanmu

Setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri-sendiri. Kalau kamu merasa enggak bahagia, bukan berarti pasanganmu bertanggung jawab sepenuhnya atas ketidakbahagiaanmu. Menyalahkan pasanganmu karena kamu enggak bahagia adalah salah satu tanda betapa egoisnya dirimu. Kalau kamu menggantungkan kebahagiaanmu pada pasanganmu, demikian pula sebaliknya, maka yang terjalin bukanlah hubungan cinta, tapi perbudakan yang semena-mena.

Obat penawar racun ini adalah: bertanggungjawablah atas kebahagiaanmu sendiri. Begitu pun pasanganmu perlu mandiri bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri.

4. Sikap pasif-agresif

Racun ini terjadi ketika kamu mendiamkan pasanganmu. Membiarkan dia bertingkah laku sebebas-bebasnya, seenaknya. Padahal sebenarnya di dalam hatimu, kamu marah luar biasa. Ini menandakan, kamu enggak menghargai dia sebagai seseorang yang kamu cintai. Dan juga ini berarti, hubunganmu punya masalah komunikasi yang serius.

Obat penawar racun ini adalah: mulai buka jalinan komunasi sebaik mungkin. Komunikasi adalah pondasi setiap relasi. Kalau enggak bisa membenahi komunikasi, hubungan enggak mungkin serasi.

5. Sedikit-sedikit mengancam mengakhiri hubungan

Kalau kamu merasa enggak nyaman dalam suatu hubungan, maka sedikit saja pasanganmu enggak setuju denganmu, akan kamu anggap itu sebagai ancaman untuk mengakhiri hubungan. Padahal perbedaan pola pikir dan enggak sejalan dalam sudut pandang itu hal yang wajar dalam suatu hubungan. Begitu pula dalam kehidupan.

Obat penawar racun ini adalah: ketika ada perbedaan, enggak harus ditanggapi dengan ancaman mengakhiri hubungan. Gunakan ini untuk mengenal lebih utuh satu sama lain. Sehingga, kalau pondasi saling memahaminya sudah kuat, perbedaan yang tak seberapa enggak lagi dijadikan ancaman untuk mengakhiri hubungan. Bahkan perbedaan bisa jadi perekat hubungan.

Saya mengerti benar bahwa merawat hubungan cinta yang benar-benar bebas dari racun itu enggak mudah. Bisa dikatakan, itu mustahil. Kita di sini tidak bertujuan untuk mewujudkan hubungan cinta yang sempurna. Tapi setidaknya, kita perlu berupaya menyadari dan mengurangi racun yang terkandung dalam hubungan cinta, sebelum menjalar ke mana-mana. Sebelum berakhir dengan berpisah.

Adjie
Author: Adjie

Inilah kesadaran hidup seorang Adjie Santosoputro. Lulusan cumlaude Psikologi UGM dan sempat menjadi finalis wirausaha muda bank besar di Indonesia ini punya minat besar perihal mengistirahatkan pikiran, kesembuhan luka batin, serta hidup sadar berbahagia.

Posted on December 6th, 2019