4 Cara Merawat Batin yang Seringkali Dilupakan di Saat Kenyataan Enggak Sesuai Harapan

“Suatu hari tabiat buruk suamiku ketahuan ibuku. Lalu dia kabur bawa semua harta dan salah satu anakku. Remuk rasanya ketika aku tahu, anakku dibawa lari. Apa yang sebaiknya aku lakukan untuk memulihkan batin di situasi sulit seperti ini?” Begitu singkat cerita dan tanya seorang teman. Yang ia tanyakan ini bukan cara mengatasi kondisi di luar diri, tapi lebih terkait kondisi batin di dalam diri.

Meski tak kita harapkan, adakalanya di hidup ini mau tidak mau kita tak bisa mengelak dari situasi-situasi yang sulit. Misal, perpisahan, patah hati berulang kali, dipecat atasan, bangkrut, orang tersayang atau kita sendiri sakit kronis, atau mendadak orang tercinta meninggal.

Situasi sulit adalah pengingat indah buat mengurangi pencarian ke luar, dan mulai menengok ke dalam. Hati hanya bisa terbuka karena patah hati. Jiwa jadi terlatih menyala terang karena mengalami momen yang gelap.

Di situasi sulit, sebaiknya kita:

1. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Langkah praktisnya, sadari pikiran yang ingin tergesa. Katakan ke dalam diri sendiri: Dengan berlatih sabar, kita jadi percaya diri kita mampu menghadapi perasaan tak nyaman yang muncul.

2. Menemui perasaan tak nyaman di dalam. Dari kesedihan sampai kemarahan. Begitu kita lari mengalihkan diri dari perasaan itu, atau kita berusaha mati-matian menghempaskannya, diam-diam kita malah ditikam oleh perasaan itu. Yang diperlukan adalah perlahan memunculkan keberanian untuk menghadapinya.

3. Sesekali belajar menyadari sensasi tubuh yang muncul. Seperti bahu jadi kaku, jantung berdebar, nyeri di ulu hati, dan sebagainya. Ingatkan diri agar tak larut dalam drama yang diciptakan pikiran. Asal bisa bersikap ramah seperti menghibur teman yang sedang bersedih, sesungguhnya perasaan yang berontak tak kan lagi berperan sebagai lawan.

4. Pelajarannya: Pada akhirnya, kita jadi sadar perasaan itu tak semenakutkan yang kita bayangkan. Kalau bisa berteman dengannya, hidup kita tak hancur begitu saja. Untuk berhubungan sehat dengan diri sendiri, disarankan memperlakukan perasaan juga pikiran layaknya awan yang lalu lalang silih berganti. Dan kita adalah langit. Di zaman ini, kesadaran bahwa perasaan dan pikiran hanya bagian dari diri kita adalah pondasi ketenangan batin. Untuk itu, kendurkan cengkeraman pada perasaan dan pikiran. Sederhananya, memberi ruang untuk perasaan pikiran agar gemuruh itu dengan sendirinya luruh.

Adjie Santosoputro
Author: Adjie Santosoputro

Inilah kesadaran hidup seorang Adjie Santosoputro. Lulusan cumlaude Psikologi UGM dan sempat menjadi finalis wirausaha muda bank besar di Indonesia ini punya minat besar perihal mengistirahatkan pikiran, kesembuhan luka batin, serta hidup sadar berbahagia.

Posted on January 11th, 2020