Belajar Menjalani Hidup Tanpa Tujuan

Tujuan hidup atau kadang disebut dengan misi jiwa, purpose of life. Tulisan ini tidak mengajak apalagi memaksa orang yang punya tujuan hidup untuk tidak punya tujuan. Apalagi kalau orang itu memang lebih nyaman menjalani hidup dengan keharusan punya tujuan, lalu berusaha mengejar dan meraihnya.

Kita bisa berusaha mengetahui tujuan hidup ini sebenarnya apa lewat jalan spiritual atau lewat agama yang kita percaya masing-masing. Kita juga diminta punya tujuan hidup ketika kita belajar soal meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

Tulisan ini lebih mengajak melihat diri yang barangkali terjerat oleh tujuan hidup kita sendiri.

Dulu saya pernah dikatain kurang lebih gini: “Mas, kamu itu gak pantes deketin anak saya. Soalnya kamu itu keliatannya gak punya tujuan hidup.” Di kesempatan lain pernah juga: “Kamu itu gak layak kerja bareng kami. Karena yang kerja bareng kami mesti tau purpose of lifenya apa.”

Kamu pernah ngalamin juga?

Dikatain gitu, saya sedih & perihnya membekas cukup dalam. Waktu itu saya sampai benci diri sendiri, kenapa ya kok saya gak sekeren temen-temen lain yang punya purpose of life. Cukup lama dan sampai sekarang pun saya masih merenungkan perihal tujuan hidup ini. Seolah ada 2 orang di dalam diri saya yang ngobrol.

“Apa iya hidup harus punya tujuan?”

“Lho apa harus punya tujuan? Bukannya lebih bahagia kalau gak punya tujuan, gak perlu mengejarnya? Gak punya tujuan maka gak mungkin tersesat kan? Jadi hidup ya hidup aja.”

“Hmm, tapi aku rasa aku harus punya tujuan hidup.”

“Ooo harus ya? Tujuan hidup kayak gimana yang kamu mau?”

“Tujuan hidup yang besar. Semacam misi yang diberikan ke diriku yang mesti ku jalani sampai berhasil.”

“Lihatlah kenyataan di hidup ini. Iya, ada orang yang karena punya tujuan hidup maka dia bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat nan indah. Tapi ada juga orang yang agresif bersikap sadis melakukan kekerasan begitu mengerikan, dikarenakan oleh apa? Juga karena mereka merasa harus meraih tujuannya, harus menjalani misinya.

“Jadi terlalu mementingkan tujuan ya? Tapi aku masih penasaran … Gimana ya cara tau tujuan hidupku?”

“Mungkin banyak cara untuk tau. Tapi ketika kita udah merasa tau tujuan hidup kita, apakah itu beneran tujuan hidup kita, atau sebenarnya kita cuma modal percaya, mengira-ngira dan sok tau aja bahwa itu adalah tujuan hidup kita? Tujuan itu kita ciptakan sendiri sebatas pengetahuan kita. Lalu kita malah jadi lebih mentingin tujuan hidup yang sebatas kira-kira itu daripada hidup itu sendiri yang lebih nyata.”

Hidup ini begitu indah. Dan hal terindah dalam hidup ini adalah karena tidak akan tau sebenar-benarnya hidup ini seperti apa. Termasuk barangkali kita tidak akan pernah tau sebenarnya tujuan hidup ini apa. Jadi ya hidup hanya untuk hidup saja. Buat saya jalan hidup seperti ini rasanya lebih menenangkan hati.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

36

Berusaha Agar Tidak Overthinking, Malah Semakin Overthinking

Kita akrab dengan cara mengendalikan pikiran supaya tenang sehingga tak lagi overthinking. Tapi bagaimana hasilnya?

Berusaha menenangkan pikiran yang tidak tenang malah semakin membuat pikiran tidak tenang. Sifat alami pikiran memang selalu mengembara. Silih berganti memori dan imajinasi. Misal muncul bayangan muka mantan. Lalu kita berusaha mengganti pikiran itu dengan membayangkan situasi di pinggir pantai. Apa yang terjadi? Betapa kreatifnya pikiran kita. Malah muncul bayangan di pinggir pantai bersama mantan. Atau muncul bayangan mantan mengajak ke pantai. Memang begitulah sifat alami pikiran.

Jadi kalau kita mau mengurangi overthinking, kita perlu berlatih mengurangi identifikasi. Mengurangi menganggap diri kita sama dengan hal-hal yang sebenarnya bukan diri kita seutuhnya (seperti kekayaan, kekuasaan, popularitas, penampilan, kualitas pasangan, jumlah followers social media, pendidikan, gelar, dan semacamnya).

Karena pikiran hanya seperti cermin. Memantulkan saja hal-hal yang menjadi identifikasi kita. Kalau kita teridentifikasi dengan pakaian, pikiran kita akan penuh berisi memori dan imajinasi soal pakaian. Kalau kita teridentifikasi dengan jumlah followers social media, pikiran kita akan sesak berisi memori dan imajinasi terkait jumlah followers. Memori dan imajinasi ini bisa menyebabkan penyesalan, kesedihan, kemarahan, kecemasan, dan berbagai perasaan lainnya.

Lalu bagaimana cara mengurangi overthinking?

Dengan berlatih mengurangi identifikasi. Ada 2 jalan:

  1. Mengurangi identifikasi dengan hal-hal yang sifatnya lebih berwujud daripada pikiran. Belajar hidup minimalis. Mengurangi yang kita rasa miliki. Menyadari hal-hal yang kita anggap diri kita seutuhnya itu sebenarnya bukanlah diri kita seutuhnya. Sehingga perlahan kita pun mampu mengurangi identifikasi kita dengan pikiran. Overthinking pun berangsur mereda.
  2. Mengurangi identifikasi dengan pikiran. Berlatih bukan mengendalikan pikiran, tapi berlatih sadar diri, bermeditasi. Menyadari napas dan menyadari pikiran. Menyadari hasil kerja pikiran yaitu memori dan imajinasi itu bukanlah diri kita. Berlatih berjarak dengan pikiran kita sendiri. Karena akar dari identifikasi adalah pikiran, maka ketika kita berlatih mengurangi identifikasi dengan pikiran, identifikasi dengan hal-hal lainnya pun otomatis turut berkurang.

Di awal perjalanan, pikiran kita terasa pergi ke mana-mana dan kita terjerat olehnya. Dengan berlatih sadar diri, bermeditasi, pelan-pelan pikiran kita tetap pergi ke mana-mana, tapi jeratannya mengendur. Kita melatih diri sebagai penonton pikiran, bukan pemain skenario film di dalam pikiran. Muncul kejernihan, dan barulah kita bisa menggunakan pikiran sesuai fungsinya dengan sebaik mungkin.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8

Overthinking? Ini yang Perlu Kita Ketahui

Kita merasa pikiran sering mengembara ke masa lalu dan masa depan. Atau biasanya disebut overthinking. Tapi apa benar pikiran bisa pergi ke sana ke mari?

Kenyataannya, pikiran tidak pernah pergi ke mana-mana. Pikiran selalu bersama tubuh berada di sini-kini. Bisa dikata kita tertipu pikiran kita sendiri. Yang kita rasa pikiran pergi ke mana-mana itu sebenarnya hanyalah kerja pikiran yang mengingat kejadian masa lalu menghasilkan memori dan membayangkan kejadian masa depan menghasilkan imajinasi.

Mengapa kita kewalahan dengan kerja pikiran kita sendiri?

Karena kita teridentifikasi dengan pikiran kita sendiri. Bukan hanya teridentifikasi pikiran yang sifatnya abstrak, kita pun teridentifikasi dengan hal-hal yang sifatnya lebih berwujud, misal pakaian, tas, penampilan, dan sebagainya. Kita teridentifikasi dengan hal-hal yang sebenarnya bukan diri kita seutuhnya.

Teridentifikasi itu maksudnya gimana?

Teridentifikasi berarti kita menganggap diri kita sama dengan sesuatu itu. Misal kita teridentifikasi dengan pakaian yang kita kenakan. Maka kita menganggap berharga atau tidaknya diri kita sepenuhnya ditentukan oleh sekeren apa, seberapa mahal, mengikuti trend atau tidak, merknya apa, pakaian yang kita kenakan. Akibatnya kita jadi rewel terkait pakaian.

Selain pakaian, barangkali kita juga teridentifikasi dengan kekayaan, kekuasaan, popularitas, kualitas pasangan, jumlah followers social media, pendidikan, gelar, dan semacamnya.

Selama diri kita masih teridentifikasi dengan banyak hal yang sebenarnya bukan diri kita seutuhnya, maka sekuat apapun usaha kita untuk meredakan overthinking akan sulit menemui hasil.

Kok bisa?

Kurang lebih seperti seseorang yang sakit lambung, dan makan makanan yang memicu sakit lambung. Maka lambung terasa perih tidak bisa terelakkan. Begitu pula kalau kita masih teridentifikasi dengan banyak hal. Berbagai upaya untuk menghilangkan overthinking sudah dilakukan, tapi overthinking tetap tidak bisa dihindari.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

24

Berbuka dengan Sadar (Latihan Mindful Eating)

“Menyadari diri sedang makan adalah bentuk latihan mencintai diri sendiri.”

Latihan mindful eating setidaknya dilakukan 1x dalam sehari. Oleh karena itu, pilihlah waktu makanmu (sarapan, makan siang, atau makan malam), yang kamu rasa kamu bakal bisa melakukan latihan ini. Makan dengan syarat minimal 5 menit tanpa bicara, tanpa nonton tv, tanpa pegang hp, tanpa sambil melakukan hal lainnya. Makan hanya makan saja.

Memungkinkan juga kalau kamu terbiasa makan camilan di sore hari, kamu bisa gunakan menikmati camilan untuk berlatih mindful eating.

Selama menyantap makanan, saran saya, berlatihlah menyadari makan minimal selama 5 menit di awal makan. Kalau mau, kita juga bisa melakukannya sampai makanan habis. Tapi kita sebagai pemula, ini tidak wajib.

Apa yang kita lakukan minimal selama 5 menit berlatih mindful eating? Berikut cara latihannya:
1. Tutup akses ke semua gangguan. Matikan tv, tutup laptop atau komputer, letakkan hp atau gadget, tidak pegang buku. Yang ada hanya makanan.

2. Tidak bicara minimal selama 5 menit. Kalau ada temanmu yang makan bersamamu di waktu kamu berlatih mindful eating, mintalah dengan sopan untuk tidak bicara kepadamu selama waktu itu. Atau, ceritakan tentang latihan ini, lalu ajak dia untuk ikut latihan bersamamu. Memang seringkali lebih mudah kalau kamu makan sendirian saat berlatih ini. Apalagi kalau temanmu tidak mau menyetujui permintaanmu itu.

3. Saat gigitan pertama, sadari sensasi makanan yang kamu santap. Teksturnya, aromanya, berbagai rasanya. Nikmati setiap gigitan. Telan pelan-pelan. Sehingga kamu bisa benar-benar menyadari makanan itu.

4. Ketika pikiranmu mengembara menjauh dari sensasi makanan, sadari pikiran itu. Pelan-pelan arahkan kembali pikiranmu menyadari tarikan dan embusan napas, lalu menyadari sensasi makanan. Seperti ketika kamu mengarahkan kembali pikiranmu menyadari napas dalam latihan mindful sitting.

5. Sadari bagaimana perasaanmu saat makan. Bagaimana sensasi tubuhmu? Apakah kamu merasa nyaman, tidak nyaman, menyenangkan? Apapun itu, hanya sadari.

6. Berhentilah sejenak di antara gigitan, ketimbang tergesa memasukkan suapan berikutnya ke mulutmu (saya masih sering tergesa :)). Bernapaslah. Arahkan perhatianmu ke napasmu. Menyadari beberapa kali tarikan dan embusan napas, sebelum mengangkat lagi sendok dan garpumu.

7. Ulangi ini di setiap gigitan, di setiap suapan.

Kita tidak harus menerapkan setiap langkah ini sampai makan selesai. Tapi itu tadi 7 hal yang perlu kita perhatikan saat berlatih mindful eating.

Kalau kita berlatih mindful eating sampai makan selesai, cobalah sadari juga tingkat kekenyangan. Berusahalah berhenti makan sebelum terlalu kenyang.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

35

Berharap Seseorang Memberikan Kebahagiaan

Berikut salah satu cerita di buku Burung Berkicau karya Anthony de Mello, berjudul Kunyahlah Buahmu Sendiri. Seorang murid mengeluh kepada Gurunya: “Guru menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.”

Jawab sang Guru: “Bagaimana menurutmu, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu … namun mengunyahkannya dahulu untukmu?”

Cerita yang layak untuk kita renungkan…
Kita berharap orang lainlah yang sepenuhnya bertanggung jawab menjelaskan sejelas-jelasnya pelajaran hidup yang kita butuhkan. Kita hanya mau menerimanya. Tak mau ada upaya apa-apa. Begitu pula soal bahagia. Kita ingin orang lainlah yang memberikan kebahagiaan kepada kita.

Tetapi mental seperti itu tanpa kita sadari membuat kita manja. Lagipula kalau diibaratkan makan buah, orang lain mengunyahkan buah itu dulu baru disuapkan kepada kita kok ya menjijikkan. Juga menumpulkan kemampuan kita untuk bisa bahagia tanpa terlalu tergantung dengan orang lain.

Saat ini kita perlu menyadari, kita perlu mandiri. Mengunyah mencerna sendiri pelajaran hidup yang kita terima. Berjalan sendiri menelusuri ke dalam diri menemukan bahagia yang selalu ada dan menanti. Tidak bisa diwakilkan orang lain. Karena hasil kunyah cerna orang lain, bahkan hasil kunyah cerna sang Guru sekalipun, tidak akan cocok buat diri kita. Kita perlu mengunyah dan mencernanya sendiri. Yuk belajar tidak manja, belajar bahagia secara mandiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

41

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengurangi Rasa Panik & Takut?

Pernah gak kamu terus berusaha gak mau mikirin, padahal kamu tau sesuatu itu mesti kamu pikirin? Misal soal hubungan cinta, pekerjaan, karir, kesehatan, hutang. Apa yang sebaiknya kita lakukan kalau berada di kondisi seperti itu?

Langkah paling awal & penting:

1. Kita perlu akui dulu bahwa kita terus berusaha enggak mau mikirin, enggak mau ngomongin sesuatu itu sebenarnya lebih karena kita panik & takut tiap kali mikirin & ngomongin itu.

Perlahan kurangi denialnya.

Lalu kenali soal apa aja yang biasanya kalau kita pikirin & omongin bikin kita panik & takut. Apa soal relasi, soal yang telah kamu lakukan pada seseorang di masa lalu, soal keuangan, kesehatan, karir, pekerjaan?

Kita belajar membaca diri sendiri.

Panik & takut itu terus-terusan terasa enggak nyaman karena kita sembunyikan dalam gelap. Daripada terus menghindari & menyembunyikannya, kita perlu perlahan menemui yang bikin kita panik & takut. Menyinarinya dengan menyadarinya.

Kalau perlu tuliskan soal apa yang selama ini bikin panik & takut. Misal: soal relasi. Tuliskan apa masalahnya.

Mungkin terasa konyol menuliskannya, tapi ini cara agar rasa panik & takut tidak sembunyi dalam gelap. Kita belajar menyinarinya. Apa dengan menuliskannya, masalah kelar? Tentu tidak. Nanti di langkah selanjutnya kita akan pelajari ini. Kalau kita sangat takut menemui & menuliskan yang bikin kita panik & takut, kita bisa nanya ke diri sendiri:

”Apa sebenarnya yang bikin kita takut akan hal itu? Semenakutkan itukah, atau mungkin hanya bayangan di pikiran kita sendiri aja sehingga itu terasa menakutkan?”

Kalau emang belum berani, ya tak perlu dipaksakan. Bisa minta bantuan orang lain terutama yang profesional dalam hal ini, psikolog, psikiater, konselor.

2. Setelah menyadari rasa panik & takut itu, kita perlu merencanakan apa aja yang perlu kita lakukan untuk mengatasi masalah itu. Kita bikin action plan. Tapi yang realistis, enggak ribet, yang jelas & benar-benar bisa kita lakukan.

Lalu, lakukan. Satu per satu, perlahan, bertahap. Rasa panik & takut mungkin masih ada, tapi jeratannya enggak sekencang sebelumnya. Karena tak lagi kita sembunyikan dalam gelap.

Kesimpulannya:
1. Kita perlu menyadari rasa panik & takut. Tuliskan apa yang bikin panik & takut. Karena kalau terus sembunyi dalam gelap, kalau kita berusaha enggak pikirin, malah akan makin menguasai diri kita dan kita tergulung masalah yang makin rumit.

2. Bikin action plan & lakukan perlahan bertahap.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10

Sebuah Pengingat Buat Kamu yang Sering Overthinking

Ketika kita membaca tulisan ini, berarti ada tulisan yang kita baca dan ada kita yang membaca tulisan. Ketika kita bisa membaca tulisan ini juga merupakan tanda bahwa kita bukanlah tulisan. Kita tidak menyatu dengan tulisan. Kita adalah pihak yang berbeda dan terpisah dengan tulisan.

Sebatas yang saya tahu, begitu pula ketika kita merasa kok pikiran kita ramai sekali. Berarti ada pikiran yang kita rasakan atau buah pikiran yang kita sadari, dan ada dimensi yang jauh lebih dalam dari pikiran itu, yaitu kesadaran kita yang menyadari pikiran.

Ketika kita bisa menyadari pikiran kita … Misal menyadari memori, kenangan, ingatan masa lalu yang sudah terjadi, atau menyadari imajinasi, impian, bayangan masa depan yang belum terjadi … berarti ini juga merupakan tanda bahwa kita bukanlah segala bentuk pikiran itu. Kita tidak menyatu dengan pikiran itu. Kita adalah pihak yang berbeda dan terpisah dengan pikiran itu.

Sebatas yang saya tahu, sebenar-benarnya kita adalah kesadaran yang menyadari pikiran itu. Ada berbagai macam istilah untuk menyebut kesadaran itu. Apapun itu, ketika overthinking, ketika kita dibuat kewalahan oleh pikiran juga perasaan kita sendiri, kita perlu ingat: “Kita bukanlah pikiran dan perasaan itu. Kita adalah yang menyadarinya. Kita bisa melatih diri hanya mengamatinya. Sehingga seriuh apapun, sebenarnya kita tidak akan bisa terganggu oleh pikiran dan perasaan kita sendiri.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

131

Pikiran Terasa Begitu Mengganggu?

“If your mind doesn’t go out to disturb the noise, the noise won’t disturb you”. Begitu kurang lebih kata Ajahn Chah. Pesan mendalam yang membuat saya sesaat berkontemplasi: Jadi selama ini pikiran yang mengganggu kita, atau jangan-jangan kita yang mengganggu pikiran kita ya?

Kita cenderung beranggapan pikiranlah yang mengganggu kita. Kita terbiasa memposisikan diri sebagai korban. Victim mentality. Bahkan kalau ada kabel beraliran listrik, kita yang rusak kabelnya, terus kita kesetrum… kita pun mungkin akan beranggapan listriknyalah yang mengganggu kita. Pokoknya kita enggak pernah salah. Ego selalu mencari cara agar merasa benar.

Di suatu waktu, ego suka sekali dipuja-puji. Tapi di waktu yang lain, ego berusaha agar paling yang dikasihani. Keduanya adalah ekspresi ego agar dianggap ada.

Barangkali begitu pula kita dengan pikiran kita ya?

Pikiran itu ya emang kerjanya mengenang masa lalu (memori), membayangkan masa depan (imajinasi). Memunculkan kemungkinan terburuk, sekaligus ternyaman. Kita berusaha mengendalikannya, lalu kita merasa pikiranlah yang mengganggu kita.

Selucu itukah kita ini, manusia? 🙂

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

34

Pemulihan Batin & Beristirahat di Sini-Kini

Kata Eckhart Tolle, “Your outer journey is to arrive at your goal or destination, to accomplish what you set out to do, to achieve this or that, which of course, implies future. The outer journey belongs to the horizontal dimension of space and time. The inner journey concerns a deepening of your Being in the vertical dimension of the timeless Now.”

Kurang lebih terjemahan bebasnya: “Perjalananmu ke luar itu untuk mencapai impian atau tujuan, untuk menyelesaikan apa yang sudah kamu tentukan buat kamu lakukan, untuk meraih ini dan itu, dan tentu saja ini terkait masa depan. Perjalananmu ke luar melibatkan dimensi ruang & waktu secara horisontal. Perjalananmu ke dalam mengenai memperdalam keberadaanmu di dimensi vertikal di momen tanpa batas waktu, sekarang, saat ini, di sini-kini.”

Selama ini barangkali kita beranggapan bahwa kondisi batin yang pulih itu ada di masa depan. Kelak suatu hari nanti batin kita akan pulih. Sehingga kita menjadikan pemulihan batin sebagai tujuan yang mesti kita dapatkan. Ada orang lain yang bisa memulihkan batinnya, maka kita juga bisa mendapatkannya. Karena sebagai tujuan, maka adanya hanya di masa depan.

Seiring berjalannya waktu, kita menyadari bahwa pemulihan batin hanya bisa terjadi di sini-kini. Jalan masuknya hanya di sini-kini. Kalau kita membayangkan di masa depanlah batin kita akan pulih, maka bayangan, imajinasi ini sebatas proyeksi pikiran. Konsep atau gambaran mental yang abstrak. Imajinasi ini malah menghalangi jalan masuk pemulihan batin yang hanya berada di sini-kini. Ego, keakuan kita akan perlahan surut ketika kita sadar diri di sini-kini. Memang inilah dilema kita yang sedang berproses memulihkan batin. Kita pikir pemulihan batin itu sebagai tujuan di masa depan, tapi ternyata pemulihan batin hanya bisa terjadi kalau kita masuk dan beristirahat di sini-kini.

Kenyataannya, orang yang mulai menyerah menempatkan pemulihan batin sebagai tujuan di masa depan itu biasanya karena dia sudah lelah berusaha terus menerus meraih kondisi pulih. Atau bisa juga karena dia sudah menyadari kebenarannya bahwa jalan masuk pemulihan batin adalah di sini-kini.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

49

Bahagia, Memanjang dan Memendek

Saya pernah baca Kawruh Jiwa, Ki Ageng Suryomentaram berkata soal “Mulur mungkret” atau “Mengendur mengkerut / memanjang memendek”. Maksudnya gimana? Sebatas saya memahaminya begini…

Di saat keinginan kita terwujud maka kita cenderung “mulur”.

Misal pingin sebulan punya pendapatan 10 juta. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin sebulan 15 juta. Dan terus seperti itu.

Misal pingin punya posisi jadi asisten manager divisi tertentu. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin punya posisi jadi manager. Dan terus seperti itu.

Misal pingin punya pasangan. Pokoknya punya pasangan tanpa syarat apa-apa. Ketika terwujud, gembira. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi gembira karena keinginannya “mulur”, pingin punya pasangan yang begini begitu. Bahkan ketika itu terwujud, keinginannya kembali “mulur”, pingin punya pasangan lebih dari satu.

Nah kalau sebaliknya, di saat keinginan kita enggak terwujud gimana? Maka kita cenderung “mungkret”.

Misal pingin sebulan punya pendapatan 10 juta. Ketika enggak terwujud, sedih. Tapi selang beberapa saat, enggak lagi sedih karena keinginannya “mungkret”, ya udahlah pingin sebulan 5 juta aja gak pa-pa, dipas-pasin.

Tapi di saat berhasil mendapatkan sebulan 5 juta, apa yang terjadi? Gembira, tapi ya hanya beberapa saat. Kenapa? Karena keinginannya “mulur”, Udah bisa dapat sebulan 5 juta, pingin sebulan 7 juta. Dan terus seperti itu.

Begitu pula kalau keinginan kita soal jabatan pekerjaan dan relasi pasangan tidak terwujud maka kita cenderung “mungkret”. Lalu “mulur” lagi. “Mungkret” lagi. Dan terus seperti itu.

Gembira dan sedih di hidup ini tidak ada yang selamanya. Gembira dan sedih hanya sementara. Kalau bahagia kita kaitkan pada rasa gembira dan sedih, kalau gembira, kita bahagia, kalau sedih kita enggak bahagia, maka kita akan terus terombang-ambing. Tak pernah bisa jenak.

Biar kita benar-benar menemukan bahagia, barangkali kita perlu berlatih hanya mengamati rasa gembira dan sedih. Layaknya kita duduk di pinggir sungai, dan hanya mengamati arus sungai kehidupan yang kadang gembira dan kadang sedih.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

57