Belajar Malas: Sebuah Kekuatan untuk Sehat Mental

Yang saya tahu, ada yang terlalu rajin bekerja hingga tak punya waktu untuk bermalas-malasan. Tapi ada juga yang sebaliknya: terlalu bermalas-malasan hingga begitu sedikit waktu untuk rajin bekerja.

Namun ketika saya sedang bermalas-malasan, saya menyadari bahwa ternyata saya tidak benar-benar bermalas-malasan. Saya masih saja sibuk mengerjakan banyak hal. Mungkin tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja saya sibuk mengerjakan. Dan juga saya masih saja sibuk terhanyut oleh memori dan imajinasi pikiran sendiri.

Sejak kecil, saya diajari bahwa malas itu buruk. Saya dilarang keras malas. Tapi ternyata akhirnya saya menyadari bahwa malas tak sepenuhnya buruk.

Malas bisa jadi tanda bahwa tubuh dan pikiran saya butuh istirahat. Kalau saya abaikan dan terus sibuk bekerja, bisa-bisa yang jadi korban adalah kesehatan mental dan juga raga.

Malas bisa jadi sumber kreativitas. Saya jadi mencari cara yang hemat tenaga tapi tetap bisa produktif kerja. Saya menggunakan malas saya untuk mencari cara yang lebih baik untuk mengerjakan sesuatu.

Malas juga membuat saya enggan terlalu ikut campur hidup orang lain. Dan tentu saja juga jadi malas bertengkar. Kalau ada yang ngajak ribut, saya pun malas menerima ajakannya. Orang malas enggak suka keributan. Kemalasan bersahabat dengan perdamaian.

Akhirnya saya sadar, ada waktunya rajin bekerja. Ada waktunya pula bermalas-malasan. Belajar malas dengan penuh totalitas ternyata tak semudah yang saya bayangkan.

Ketika saya secara berkala bisa meluangkan waktu untuk benar-benar bermalas-malasan, mental saya juga bisa terawat sehat.

Sudahkah kamu belajar malas hari ini?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

2

Meragukan Cinta

Suka ngetes pasangan, dia beneran cinta enggak ya? Kamu suka gitu? Apa pasanganmu yang suka gitu? Suka meragukan cinta dan kebaikan orang lain?

Saya mau cerita dulu… Seorang temen saya udah lama banget belajar seni teater & bermain peran. Pas kumpul bareng temen, kalau dia cerita, sekalipun itu beneran nyata, kami selalu curiga dia cuma bermain peran. Cuma pura-pura. Tak jarang jadi bahan bercanda: “Maklum pemain teater.”

“Sekalipun itu beneran nyata, kami selalu curiga dia cuma bermain peran. Kenapa?” Karena dia udah lama banget belajar seni teater & bermain peran. Begitu pula mungkin yang terjadi dalam hal: Kita suka meragukan cinta & kebaikan orang lain. “Maksudnya gimana?”

Sekalipun beneran dicintai, atau ada yang berbuat baik, kita cenderung meragukannya & tak percaya. “Pasti ada maksud, modus. Pasti pura-pura.” Kenapa? Mungkin karena beberapa kali mengalami begitu, lalu memukul rata semuanya begitu.

Tapi yang jarang disadari, penyebab lainnya adalah… Karena kita sering diajari untuk mencintai dan berbuat baik.

Kok bisa?

Sejak kecil, begitu sering kita diajari untuk mencintai, berbuat baik, jangan menyakiti & membenci. Orang lain juga diajari serupa. Sehingga kita menganggap cinta itu bisa jadi rekayasa, tak lagi apa adanya.

Tapi gimana kalau ada yang benci?

Sikap kita sebaliknya. Kita jarang bahkan tak pernah meragukannya. “Enggak mungkin dia pura-pura membenci. Dia pasti membenciku.” Ternyata kita lebih percaya benci daripada cinta. Tanpa sadar, kita merasa benci itu lebih autentik daripada cinta.

Jadi sadar, kalau saya jadi suka meragukan cinta & kebaikan orang lain… bisa jadi artinya saya terjajah oleh akumulasi ajaran cinta & berbuat baik yang ada di kepala sendiri. Penghalang besar merasakan cinta barangkali adalah ajaran mengenai cinta itu sendiri. Kalau saya tidak terjajah, saya jadi bisa memberi ruang kemungkinan:

“Kalau ada yang cinta, bisa jadi itu beneran cinta. Kalau ada yang benci, bisa jadi itu hanya pura-pura.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

5

Mengapa Tidak Bahagia?

Tidak bahagia itu bukan karena penolakan, kehilangan, patah hati, sakit, tua, mati. Tapi tidak bahagia itu lebih karena kita merasa “aku” ini begitu ada. Tidak bahagia lebih karena merasa: aku ditolak, aku kehilangan, aku patah hati, aku sakit, aku tua, aku mati.

Jadi saya tahu, kalau saya mulai menjadi tidak bahagia, merasa menderita, artinya saya terhanyut oleh ego saya sendiri. Merasa “aku” begitu ada. Semakin saya berlatih menyadari bahwa “aku” ternyata tak seada yang saya kira, semakin saya mampu merasa damai, tenteram dan bahagia.

Saya tidak berusaha bodo amat dengan “aku”. Saya juga tidak berusaha menghilangkan “aku”. Karena yang menghilangkan “aku” bisa jadi juga adalah “aku”. Saya hanya berlatih menyadari “aku”, setiap kali “aku” itu muncul. Saya masih sering tak menyadarinya.

Saat ditolak, kehilangan, patah hati, tetap perih. Saat tubuh berdarah dan sakit, tetap sakit. Tua dan mati, tetap pasti terjadi. Saya tak bisa menghindari sakit, tapi saya bisa berlatih untuk tidak menderita. Berlatih menyadari “aku” tak seada yang selama ini saya kira.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13

Terjebak dalam Labirin Pikiran Sendiri

Dulu saya mengira, agar bahagia, saat pikiran (-) datang, saya perlu menghajarnya dengan pikiran (+). Saat pikiran (+) datang, saya perlu menjeratnya agar tinggal menetap. Tapi ternyata, seiring waktu berjalan, saya sadari bahwa saya perlu melatih diri untuk tidak terlalu terjerat dengan pikiran. Mengurangi membenci pikiran [-]. Mengurangi menginginkan pikiran [+].

Karena pikiran bukan kenyataan. Pikiran itu fiksi yang saya ciptakan sendiri. Lalu saya musuhi sendiri. Dibikin sendiri, lalu dilawan sendiri. Lucu juga ya? 😀

Saya tidak menyadari terciptanya pikiran itu. Seringkali pikiran [+] memberi penghiburan. Seperti berpisah, lalu berpikir: Perpisahan ini pintu untuk bertemu orang yang lebih baik. Tapi kalau berlebih, ini bukanlah hal yang sehat. Kenapa?

Karena tanpa sadar, bikin saya kecanduan pikiran [+] itu. Membuat saya tak sadar akan kenyataan hidup ini. Akibatnya?

Saya sibuk hidup di dunia fantasi pikiran saya sendiri. Denial. Tidak menerima kenyataan. Sering tak sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Kayak zombie. Karena pada hakikatnya, setiap pikiran (- atau +) yang mengunci saya akan membuat saya menderita. Pikiran itu akan membentuk pola dan jadi penghalang mata saya untuk melihat kenyataan seapaadanya. Saya jadi kesulitan untuk menerima kenyataan seapaadanya.

Di sisi lain, tanpa sadar saya terus menghindar untuk menerima kenyataan. Apalagi di awal-awal mengalami kenyataan yang enggak sesuai ingin. Kenapa?

Karena makin menerima kenyataan, makin tak terjerat pikiran, makin terasa pahit. Takut, cemas, yang berusaha ditekan dipendam makin terasa. Sehingga tanpa sadar saya milih untuk menekan memendamnya, juga melarikan diri dari perasaan-perasaan yang tak nyaman.

Padahal walau saya tekan pendam sedalam mungkin, melarikan diri sejauh mungkin, rasa takut dan cemas itu selalu ada. Merasa baikan sih, tapi enggak pulih.

Akhirnya saya sadari, ternyata untuk memulihkan batin saya perlu menerima kenyataan seapaadanya. Yang berarti perlu mengurangi cengkeraman pikiran. Mengurangi membenturkan pikiran [-] dengan pikiran [+]. Mengurangi menjerat pikiran [+]. Karena pikiran tidak bisa benar-benar memullihkan.

Saya perlu belajar menerima kenyataan. Tak terlalu larut dengan drama-drama pikiran. Sadari pikiran hanya sebagai pikiran. Bukan kenyataan. Dengan menerima kenyataan, maka akan jadi manusia seutuhnya. Dan hanya dengan jadi manusia seutuhnya, maka akan bisa benar-benar pulih.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12

Mencintai Tapi Tidak Punya Cinta

Sebatas yang saya tahu, di kepala saya seolah terpatri sebuah hukum: Semakin saya mau mengorbankan diri untuk orang lain, semakin mulialah saya. Karenanya saya terus berusaha untuk memikirkan orang lain. Termasuk juga mencintai orang lain. Tapi kenyataannya, saya sering dipermainkan oleh usaha saya untuk mencintai orang lain. Ada satu pelajaran yang saya dapatkan yaitu: “Untuk benar-benar mencintai orang lain, mesti dimulai dari mencintai diri sendiri.”

Kalau saya tidak mencintai diri sendiri, lalu saya mencintai orang lain, berarti cinta yang saya berikan hanyalah kosong belaka. Cinta kosong yang hanya berupa kata-kata romantis berbalut nafsu diam-diam untuk memiliki dan menguasai, Hingga akhirnya berujung pada menyakiti dan kesimpulan prematur: “Cinta itu memuakkan. Aku tidak mau jatuh cinta lagi.”

Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Mungkin juga ini terjadi di banyak hubungan yang mengatasnamakan cinta. Saling mencintai, tapi sebenarnya sama-sama tidak punya cinta. Saya mengira orang yang saya cintai punya cinta. Bisa jadi orang yang saya cintai juga punya pemikiran yang sama, yaitu dia mengira saya punya cinta. Padahal saya dan dia sama-sama tidak punya cinta. Seperti sama-sama tidak punya uang, tapi saling meminta uang.

Hanya perihal waktu, kondisi sebenarnya akan ketahuan. Dan saya pun tak bisa menghindar dari betapa perihnya perasaan patah hati. Diri saya pun lihai untuk melakukan pembelaan diri yang konyol, dengan mengatakan bahwa saya telah tertipu, dikhianati, dibohongi. Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Akibatnya sama-sama dikuasai marah, hingga saling mencaci maki tak terkendali dan saling ingin menumpas dendam dengan balas menyakiti. Cinta yang dinanti-nanti malah berbuah benci. Dan ini semua ternyata karena berawal dari kurangnya mencintai diri sendiri.

Seringkali saya mengambil pilihan yang memberi cinta orang lain, padahal saya sendiri tak punya cinta karena saya tak ada usaha untuk mencintai diri sendiri. Karena saya terhanyut oleh pikiran, perasaan, dan keinginan saya sendiri. Karena tanpa sadar, saya takut untuk bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan akan cinta saya sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14

Perlombaan Rebutan Perhatian

Sejak kecil saya diajari untuk memperhatikan. Salah satunya memperhatikan guru di kelas, agar paham pelajaran yang diberikan dan nilai ujian bisa dibanggakan.

Beberapa tahun terakhir ini, pemahaman saya tentang perhatian berubah. Sebatas yang saya rasakan, dari momen ke momen saya dikepung oleh banyak hal yang mesti saya kerjakan. Mulai dari telepon berdering, desakan untuk membalas pesan, serbuan notifikasi dan seolah banyak orang meminta saya untuk melakukan ini dan itu, sampai mendorong saya untuk mengikuti berbagai acara yang katanya kalau saya tidak mengikutinya, seumur hidup saya akan menyesalinya.

Saya jadi kehilangan diri sendiri di tengah semakin riuhnya perlombaan rebutan perhatian. Gambarannya seperti ada 8 tali diikat di tubuh saya, dan saya ditarik. Tali-tali itu berusaha menyeret saya ke 8 arah yang berbeda. Masing-masing tali berteriak meminta atau bahkan memaksa agar mendapatkan perhatian dari saya. Setiap pihak berteriak: “Perhatikan ini, karena ini sangatlah penting. Karena ini sungguhlah serius. Kita harus melakukannya sekarang. Harus take action sekarang. Dilarang menunda.”

Saya jadi serba cemas dan tidak ada waktu walau sejenak untuk tenang. Sehingga sampai berdampak ke kualitas pilihan perkataan dan perbuatan yang saya ambil di setiap momennya. Saya kekurangan waktu untuk jeda, kehilangan ruang untuk hening. Yang berarti juga saya jadi kehilangan kebijaksanaan. Karena didasari oleh kondisi batin saya yang tidak seimbang, barangkali tanpa sadar apa yang saya pilih lakukan ternyata malah mengundang lebih banyak penderitaan.

Perlombaan rebutan perhatian ini membuat saya sering berada di kondisi yang dipenuhi rasa takut. Karena saya jadi sering hanya berpikir soal hal-hal buruk yang bakal terjadi, soal sisi kurang yang mesti ditambahi, atau sisi berlebihan yang mesti dikurangi, soal segala sesuatu yang salah dan harus dibenahi, soal menambah dan mendapatkan keuntungan, sehingga bisa sukses luar biasa dahsyat menggelegar…

Hingga saya terhenti lalu merenung: Sebenarnya buat apa sukses? Ironisnya, saya pun tidak tahu sukses itu buat apa…

Seiring berjalannya waktu, seolah saya mendapatkan jawabannya. Sukses itu supaya saya bertumbuh. Dengan bertumbuh, maka saya bisa mengajak orang lain untuk sukses juga. Menjadi bagian dari kesuksesan tersebut.

Lalu saya pun terhenti dan merenung lagi: Itu semua buat apa? Kembali ironis, jangan-jangan itu semua hanya supaya saya bertambah teman yang sama-sama terjebak dalam hidup yang tidak bahagia…

Barangkali banyak orang sekarang ini yang mengalami kondisi seperti yang saya alami. Tersusun atas kelelahan perhatian (attention fatigue), serba cemas dan begitu banyak rasa takut. Saat ini, saya menyadari hal yang sangat saya butuhkan tapi seringkali saya kehilangannya adalah waktu untuk jeda dan ruang untuk hening. Saat ini, saya memilih untuk belajar dengan sadar secara berkala untuk mengambil jeda dan masuk dalam keheningan. Melepaskan diri dari tali-tali yang menyeret perhatian.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8

Terbuai Ekspektasi Tinggi Dalam Relasi

Saya tahu tentang bagaimana semestinya menjalani hidup ini sebatas dari segala yang saya pelajari sejak saya kecil. Salah satunya, dalam menjalani hidup ini saya harus punya ekspektasi. Termasuk ekspektasi dalam relasi, soal seseorang mesti bersikap sesuai dengan keinginan saya. Dalam bayangan saya,  kalau dia bersikap sesuai ekspektasi saya, maka saya akan bahagia.

Tetapi hingga saat ini, terbuai ekspektasi tinggi itu malah lebih banyak bikin saya menderita. Kalau pun ekpektasi itu terwujud, yang saya dapatkan bukanlah bahagia, namun hanyalah gembira beberapa waktu lalu lenyap kembali hampa.

Oleh karena itu, saya terus berlatih untuk mengurangi ekspektasi bahwa dia harus begini dan begitu sebagai syarat untuk bahagia. Karena yang saya tahu, kalau saya berekspektasi berarti saya terjerat oleh pikiran saya sendiri, misal: Yang terjadi harus sesuai dengan yang saya inginkan, dia harus memahami saya, dan sebagainya.

Padahal pikiran-pikiran itu hanyalah ilusi, pemikiran, konsep, tidak nyata. Kalau dia memahami saya, iya mungkin di permukaan batin membuat saya gembira, tapi ternyata di kedalaman batin, tak begitu mempengaruhi soal bahagia atau tidaknya saya.

Dia memahami saya, lalu gimana? Apa yang berubah? Di kedalaman batin, tidak ada yang berubah.

Begitu pula sebaliknya, dia tidak memahami saya, lalu gimana? Apa yang berubah? Di kedalaman batin, tidak ada yang berubah.

Sebelumnya, saya berpikir saya butuh ekspektasi terwujud agar saya bahagia. Tapi di saat ini, kalau saya sadar penuh hadir utuh di sini-kini, ternyata saya tidak butuh ekspektasi terwujud agar saya bahagia.

Lalu dengan dia menyadari pola interaksi yang tidak seperti biasanya, untuk pertama kalinya mungkin dia akan membenahi diri dan bersikap baik kepada saya. Kalau tidak pun, ya tidak jadi masalah. Kembali lagi ke:

Apapun sikap dia, di kedalaman batin, tidak akan mempengaruhi bahagia atau tidaknya saya.”

Akhirnya saya menyadari, kesadaran penuh kehadiran utuh di sini-kini akan diikuti penerimaan seapaadanya kenyataan, penerimaan seapaadanya seseorang. Akan diikuti welas asih yang akan memberinya ruang untuk menjadi dirinya seapaadanya dia. Akan diikuti kelapangan hati yang mampu melonggarkan jeratan ekspektasi bahwa dia harus begini dan begitu.

Mungkin dari titik tolak inilah, saya akan menemukan kembali kebahagiaan yang selama ini saya cari-cari. Kebahagiaan yang tak terbatas. Kebahagiaan yang bukan sebatas kegembiraan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13

Belajar untuk Sedikit Lebih Egois

Sejak kecil saya diajari bahwa egois itu sifat yang sepenuhnya jelek. Bahkan biar lebih menyeramkan, egois itu diberi label sebagai perbuatan berdosa yang bisa bikin masuk neraka. Pokoknya: Dilarang untuk sedikit pun egois.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi merenung mempertanyakan: Apa iya egois itu sepenuhnya negatif? Atau jangan-jangan ada sisi positifnya juga, layaknya di dalam putih ada hitam, dan di dalam hitam ada putih? Saya jadi sadar untuk belajar egois. Karena egois di takaran tertentu diperlukan.

Belajar egois berarti saya perlu belajar menjadi diri sendiri. Tidak perlu berlebihan memikirkan suara yang keluar dari mulut orang lain. Saya seimbangkan dengan memikirkan diri sendiri. Mengurangi mengurusi hidup orang lain, menambah mengurusi hidup sendiri. Barangkali untuk benar-benar memberi perhatian seisi dunia, yang mesti saya lakukan adalah memberanikan diri untuk memberi perhatian ke diri sendiri. Mungkin selama ini saya salah arah. Jadi dengan mengganti arah, yaitu belajar egois, bisa jadi saya akan lebih mudah untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan bertemu dengan kebahagiaan.

Selama ini saya seringkali diminta untuk mencintai orang lain, tapi jarang sekali diminta untuk mencintai diri sendiri. Padahal: Bagaimana bisa saya mencintai orang lain, kalau saya sendiri kekurangan cinta untuk diri sendiri? Bagaimana bisa saya berharap orang lain mencintai saya, sedangkan saya tidak mencintai diri sendiri?

Kenyataannya, terlebih dulu saya mesti punya cinta yang akan saya berikan. Belajar sedikit lebih egois, belajar mencintai diri saya sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

43

Menyelami Kesepian

Sebelum kondisi begini, adakalanya saya merasa kesepian. Tapi sekarang ini, kesepian menghujam begitu pekat. Apa kamu juga mengalaminya? Dulu itu kalau saya ingin mengusir kesepian, tentu saja mudah. Saya tinggal menemui keramaian.

Tapi ternyata di dalam kemudahan ini, ada kesulitan yang tak saya sadari.

Sering menemui keramaian, hanya ikut-ikutan saja apa yang dilakukan banyak orang, tentu akan bikin saya punya banyak teman. Jumlah followers pun jadi bertambah. Seru nan mengasyikkan bukan? Tapi saya jadi asing dengan diri sendiri. Terlalu jauh terseret kerumunan.

Saya jadi mirip dengan kebanyakan orang. Serupa massa. Masalahnya, saya jadi kehilangan keunikan. Ditambah lagi, orang-orang juga terkondisi untuk tidak mengenal bahkan tidak menghargai satu sama lainnya sebagai individu-individu dengan keberagaman. Apa akibatnya? Cenderung memaksa untuk sama. Alergi dengan beda.

Jadi syarat agar saya mengenal diri sendiri, agar orang-orang di sekitar juga mengenal saya sebagai individu yang punya warna sendiri, ya kenyataan pahitnya adalah saya mesti kesepian. Atau setidaknya saya mesti ngerem diri agar tidak terseret arus keramaian. Semacam seni untuk mengundurkan diri.

Hanya dalam kesepianlah barangkali saya akan lebih mampu menyapa, mengenali, menengok ke dalam diri sendiri. Jadi lebih menyadari apa yang sering saya pikirkan. Jadi lebih menyadari pula apa yang terselip dalam perasaan. Kalau dalam keramaian, tanpa kesepian, saya tak akan bisa menyelaminya.

Makin saya benar-benar tahu misi jiwa saya, semakin saya setia dengan rute perjalanan yang saya pilih untuk ditempuh, maka kemungkinan besar semakin saya akan mudah dikunjungi kesepian. Kalau saya terus di keramaian, terus melarikan diri dari kesepian, ya saya perlu menelan akibatnya, yaitu jadi manusia yang sebatas cuma ikut-ikutan saja apa kata banyak orang.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

34

Berhenti Mencari

“Solusi untuk menemukan yang dicari adalah dengan berhenti mencari.”


“Di mana toko mainannya?” Tanyaku semasa kecil kepada ibuku. Sambil mataku masih menahan kantuk, setelah kelelahan menangis rewel sekian lama karena minta mainan.

“Lha ini kita udah di toko mainan,” jawab ibuku seraya tersenyum melihat tingkahku.

“Hah, ini? Ini kan toko robot-robotan dan tembak-tembakan. Aku nyarinya toko mainan!” Aku terlelap tidur lagi, bermimpi ditemani rasa kecewa melanjutkan pencarian toko mainan.

Karena tidak benar-benar melihat, karena mengantuk dan tidur terlelap, karena tidak bangun serta tidak sadarkan diri… Jelas-jelas yang aku cari sudah ketemu di depan mata, tetap saja terus aku cari.

Di suatu momen yang lain, aku merenung:

“Sudah sekian lama lho aku ini mencari bahagia, mencari berbagai teknik dan metode yang bisa memulihkan batinku, bahkan mencari Tuhan yang konon ada di mana-mana… Tapi sampai sekarang aku pun belum berhasil menemukan yang kucari. Di mana sebenarnya semua yang kucari ini?”

Hingga suatu ketika aku seakan mendengar ibuku berbisik tanpa suara dalam batinku:

“Sadari, ternyata yang kita butuhkan untuk menemukan yang kita cari adalah dengan berhenti mencari. Tidak ada yang perlu kita cari. Yang perlu kita lakukan hanyalah “bangun” dan sadarkan diri, agar bisa benar-benar melihat.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

33