Menerima Perubahan

Di suatu pagi beberapa hari yang lalu, seperti biasa saya mau olahraga jalan kaki.

Lhadalah, lha kok ternyata mendung. Dan bener selang sebentar, mak bres. Hujan deras mengguyur.

Tentu saja saya sebel. Lha gimana, ini sudah kali ketiga semangat saya buat jalan kaki digagalkan oleh hujan.

Untung saja, tak lama kemudian mulai reda. Saya langsung bergegas keluar rumah, jalan kaki.

Tapi dasar nasib. Pas melangkah enggak begitu jauh dari rumah, air hujan ternyata jatuh lagi. Tanpa basa basi, langsung mengguyur. Sial!” teriak saya dalam hati sembari mempercepat ayunan kaki balik ke rumah.

Sampai rumah, saya termenung. Bukan karena sekujur badan saya basah kuyup, melainkan karena ternyata saya masih begitu kaku menolak perubahan, sampai-sampai saya tidak bisa menjaga kesabaran hanya karena kondisi cuaca.

Saya jadi ingat satu pesan indah yang sering terdengar dalam pembelajaran pemulihan batin:

Makin tua, kita makin sadar tidak ada yang selamanya. Kita makin mengerti semua hanya sementara. Kita bahkan jadi tahu bahwa rasa sakit karena patah hati pun akan berangsur berganti. Di saat yang sama, kita akan menerima ternyata bersama waktu semuanya berubah. Tapi memang waktu tak selalu bisa menyembuhkan.

Di malam itu, tidak hujan dan saya tak bisa tidur karena hawa gerah.

Dalam hati, terdengar pengingat, “Semua berubah, termasuk cuaca. Terima perubahan.”

Tiga detik kemudian, dari dalam hati pula, tersirat sanggahan, “Tapi aku pingin sekarang hujan, biar sejuk dan aku bisa tidur nyenyak!”

Saya makin yakin. Saya memang masih belum bisa menerima dan menari bersama perubahan.