Cenderung Berdasar Proyeksi Pikiran

Kumpulan tulisan pendek dari seorang pembantu memulihkan batin

1. Yang kita alami bukan senyatanya. Yang kita alami itu cenderung proyeksi mengenai yang kita alami yang ada di pikiran kita.

Ketika melihat sesuatu, apa yang kita lihat bukanlah sesuatu itu senyatanya. Tapi yang kita lihat cenderung gambaran mengenai sesuatu itu yang ada di pikiran kita.

Ketika mendengar sesuatu, apa yang kita dengar bukanlah sesuatu itu senyatanya. Tapi yang kita dengar cenderung suara mengenai sesuatu itu yang ada di pikiran kita.

Begitu pula ketika mencintai seseorang. Apa yang kita cintai bukanlah orang itu senyatanya. Tapi yang kita cintai cenderung gambaran mengenai orang itu yang ada di pikiran kita.

Dan masih banyak yang lainnya.

Kebenaran bahwa kita menjalani hidup bukan senyatanya, tapi cenderung berdasar proyeksi di pikiran kita masing-masing, merupakan pengetahuan penting yang sepertinya sering dilupakan banyak orang.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

0

Pemulih Batin Sendiri

Seri belajar sadar diri di sini-kini

Kita kira ilmu untuk memulihkan batin, ilmu olah batin agar mengalami pencerahan itu ilmu yang sangat rumit dan rahasia. Hanya dimiliki segelintir orang terpilih yang bersembunyi di tempat-tempat yang juga rahasia.

Barangkali itu ada benarnya. Tapi ada upaya sederhana yang sering kita abaikan untuk menjadi pemulih batin diri sendiri, yaitu cukup dengan meluangkan waktu untuk duduk diam mata terpejam. Hening. Menemui diri sendiri. Hanya menyadari pikiran dan perasaan yang datang pergi silih berganti.

Menyadari pikiran dan perasaan, gimana itu?

Ya seperti setiap hari kita menyadari orang-orang di sekitar, menyadari berbagai hal yang di post di social media. Tapi kita jarang bahkan tak pernah menyadari pikiran dan perasaan kita sendiri.

Setiap hari kita mencermati cerita hidup orang lain. Tak ketinggalan pula mencermati cerita series film drama. Tapi lagi-lagi kita lupa mencermati pikiran dan perasaan kita sendiri.

Padahal hal penting dan mendasar sebelum terlalu berambisi mempelajari ilmu-ilmu yang hebat terkait memulihkan batin adalah mengamati diri kita sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

5

Diri yang Tak Sebatas Kita Kira

Seri belajar sadar diri di sini-kini

Kalau kita melihat setangkai bunga, yang kita lihat bunga itu senyatanya, atau yang kita lihat gambaran (proyeksi) bunga di pikiran kita?

Iya. Yang kita lihat bukan bunga itu senyatanya, tapi hanya sebatas gambaran bunga di pikiran kita.

Begitu pula di saat kita melihat selain bunga. Begitu pula di saat kita mendengar dan mengindera apapun lainnya. Kita mengalami hidup ini bukan senyatanya. Tapi sebatas gambaran hidup di pikiran kita. Kita mengalami hidup ini tidak secara realita yang ada di kedalaman. Tapi hanya secara apa yang tampak di permukaan.

Setangkai bunga secara nyata itu ada, tapi kita tak bisa menjangkaunya karena terbatasi oleh gambaran bunga di pikiran.

Nah berarti ketika kita melihat diri sendiri… Yang kita lihat bukan diri senyatanya, tapi hanya sebatas gambaran diri di pikiran kita. Sesempit itu dan penuh keterbasan kita di dalam melihat diri sendri.

Kalau kita tidak menyadari hal ini, bisa-bisa kita menganggap diri kita adalah sebatas pikiran yang kita kenakan. Jadi marah kalau ada yang mengejek pakaian kita. Atau menganggap diri kita adalah sebatas nama yang kita punya. Jadi marah kalau ada yang mencela nama kita. Dan masih banyak lagi hal-hal yang kita anggap diri kita.

Padahal di sisi yang lain, kalau kita benar-benar menyadari keterbatasan gambaran pikiran kita mengenai diri kita sendiri, maka berarti diri kita senyatanya itu sangatlah luas.

Ketika menyadari diri kita ini bukanlah siapa-siapa, maka sebenarnya kita ini adalah segalanya. Diri kita ini enggak sebatas yang kita kira. Ia sangatlah luas. Saking luasnya tak ada yang bisa menghina.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

25

Modern Loneliness – Ramai Tapi Sepi

Seri belajar memulihkan batin

Di tengah begitu mudahnya kita berinteraksi melalui kecanggihan teknologi, kita malah cenderung merasa kesepian. Selalu merasa tidak tenang Apakah dunia yang hyperconnected ini mempengaruhi kesehatan mental kita?

Sesuatu yang paradoks ya. Kita berada di kondisi yang hyperconnected tapi di saat bersamaan kita merasa disconnected, kesepian. Iya, kita, manusia ini makhluk sosial. Perlu berinteraksi. Kekurangan atau sama sekali tidak berinteraksi adalah kondisi yang ngeri.

Tapi kelebihan interaksi juga enggak sehat. Oleh karena itu, sebenarnya yang kita perlukan adalah interaksi yang secukupnya. Kondisi hyperconnected beresiko memicu pikiran jadi tidak sadar di sini-kini. Melemahkan otot mindful. Kita dihajar derasnya arus informasi, data, interaksi.

Karena begitu mudahnya mengakses yang ingin kita ketahui, kita jadi terus mengejar berburu apapun yang terbaru. Takut banget ketinggalan. Fear of missing out. Sering mikirin apa yang akan kita lakukan. Penuh dengan imajinasi masa depan dan kita jadi enggak pernah benar-benar hidup di sini-kini.

Kenapa hyperconnected tapi kesepian? Karena interaksi yang terjadi cenderung bersifat permukaan. Meski punya banyak teman di dunia maya pun ya sekadar ramai, bahkan bising, tapi kualitas pertemanannya tidak mendalam. Dan karena koneksinya antar layar, tidak ada sentuhan fisik.

Sibuk interaksi melalui layar, kita jadi mengorbankan interaksi di dunia nyata. Padahal bisa jadi interaksi di dunia nyata itu interaksi yang mendalam. Manusia adalah social animal. Perlu sentuhan fisik. Kekurangan sentuhan fisik mempengaruhi kesehatan. Karenanya, kita perlu berbagi pelukan, terutama keluarga yang serumah.

Tips mengurangi hyperconnected:

  • batasi durasi memakai digital
  • jadwalkan melakukan kegiatan yang tanpa digital
  • tentukan kalau pagi jam berapa mulai pakai digital, kalau malam maksimal jam berapa
  • pas bertemu dan ngobrol penting, hadir utuh, enggak dikit-dikit lihat digital

Enggak mudah mengurangi hyperconnected. Karena kita terjerat hyperconnected. Karena takut banget mengurangi interaksi. Ada sisi karena kita terlalu serius. Karenanya kita perlu meluangkan waktu untuk bermain. Menyalakan energi anak-anak di dalam diri. Tidak perlu serius-serius ya.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6

Memulihkan Takut

Seri belajar memulihkan batin

Takut jatuh cinta, takut omongan orang lain, takut gak punya uang, takut kehilangan, takut gagal, takut dianggap gak keren, takut, takut, dan takut. Begitu banyak takut dalam hidup ini.

Kita perlu memeriksa diri sendiri dulu ya, jangan-jangan akar dari rasa takut itu berasal dari persepsi yang keliru. Cara memeriksanya gimana?

Latihan duduk diam hening, menyadari napas, akan menguatkan otot kesadaran. Dan ini akan membantu kita melihat rasa takut lebih dalam.

Saat dikunjungi rasa takut, kita cenderung:
– Melarikan diri sembunyi darinya. Takut karena rasa takut
– Menyembunyikannya, mengalihkannya & berpura2 tidak takut
– Melawannya mati-matian

Untuk memulihkannya, kita perlu menemuinya, menyadarinya. Tidak menghindar, tidak mengusir. Bukannya rasa takut itu mesti dikalahkan?

Tidak perlu menganggap rasa takut sebagai lawan. Tidak perlu berusaha mengalahkan rasa takut. Tidak perlu pula berkata kepada diri sendiri, “tidak takut, tidak takut, tidak takut” dalam rangka meyakinkan diri agar tidak takut. Lalu?

Berlatih mengakui rasa takut itu ada. Dan hanya sadari. Tak perlu bereaksi. Kesadaran kita perlahan akan memeluk rasa takut itu.

Dengan duduk bersama rasa takut & kesadaran yang memeluknya, perlahan rasa takut itu akan pulih dengan sendirinya. Rasa takut akan apapun perlu kita rawat dengan latihan seperti ini. Kalau tekun berlatih, saat rasa takut berkunjung lagi, ia tak semenakutkan sebelumnya.

Sebenar-benarnya berani bukanlah tidak adanya rasa takut. Sebenar-benarnya berani adalah ketika kita mengakui bahwa kita takut, dan kita menerima & memeluk rasa takut.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

4

Mengurangi Syarat Bahagia

Seri belajar hidup minimalis

Dulu, setiap hari saya minum teh. Kalau tidak, saya merasa ada yang kurang dan tidak bahagia.

Suatu hari saya mau minum teh. Lha kok saya baru sadar ternyata persedian teh di rumah habis. Bisa beli dulu sih. Namun saya memilih bereksperimen: Gimana ya kalau seharian saya enggak minum teh? Tentu ada gejolak perasaan, tapi pada akhirnya toh saya tetap baik-baik saja. Enggak harus minum teh untuk bisa bahagia.

Dari pengalaman itu saya belajar, kalau saya merasa sesuatu adalah syarat agar saya bahagia, apalagi sudah jadi rutinitas sekian lama, maka saya jadi sulit lepas darinya. Terjerat erat. Sehingga yang ada hanya 1 kata: Harus. Kebahagiaan saya tergantung di sesuatu itu.

Bukan hanya harus minum teh, tapi juga misal harus terkoneksi internet di pagi hari, harus punya me time, harus makan kue manis, harus nonton series, harus beli barang demi mendapatkan rasa nyaman, harus begini dan harus begitu.

Emangnya salah ya? Ya enggak salah sih. Cuma lama-lama syarat bahagia jadi banyak sekali.

Pelan-pelan belajar ikhlas melepaskan berbagai syarat itu. Kalau bisa terpenuhi, ya menyenangkan. Kalau tidak, ya tak apa, tetap bahagia.

Ketika tidak melakukan yang selama ini harus dilakukan, tentu akan muncul rasa tidak nyaman. Kita perlu perlahan belajar memeluknya. Menyadari rasa itu tanpa berusaha melawan & mengubahnya. Tanpa berusaha sembunyi & melarikan diri darinya. Sehingga syarat bahagia pun satu per satu berkurang.

Semakin dikit syarat bahagia yang kita punya, semakin kita mudah bahagia. Tapi sayangnya, tidak semua orang mau melakukannya. Dan itu juga tak apa-apa.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

4

Apa itu Mindfulness?

Seri belajar sadar diri di sini-kini

Mindfulness, setelah saya cari tau bahasa Indonesianya apa, ternyata yang bener adalah mindful = wawas, mindfulness = kewawasan. Satu akar kata dengan “wawasan”.

Barangkali selama ini kita taunya “mawas diri”. Padahal bentuk bakunya adalah “wawas diri”.

Mindfulness = kewawasan, adalah kemampuan alami kita sebagai manusia untuk hadir penuh, sadar di mana diri kita berada, dan apa yang kita lakukan, dan tidak terlalu reaktif atau kewalahan dengan apa yang terjadi di sekitar kita.

Kemampuan alami? Iya, mindfulness ini suatu kemampuan yang sejak lahir udah kita punyai. Jadi ya semacam bakat. Kalau kita tidak melatihnya, bakal gitu-gitu aja, atau bisa-bisa akan melemah. Kalau kita semakin rajin melatihnya, kita akan semakin jago menggunakannya di mana pun dan kapan pun.

Kapan pun kita menyadari yang sedang kita alami, menyadari yang sedang kita indra, menyadari pikiran dan perasaan kita sendiri, berarti kita sedang mindful = wawas.

Mengapa saya selama ini mempelajari mindfulness = kewawasan?

Salah satu penyebabnya adalah karena didukung penelitian-penelitian ilmiah. Terus bertambah jumlah penelitian yang membuktikan bahwa kalau kita melatih pikiran untuk mindful = wawas, sebenarnya kita sedang membenahi, bahkan sampai di tingkatan struktur fisik otak kita.

Lalu apa tujuan berlatih mindfulness = kewawasan?

Tujuannya adalah sesederhana agar kita tidak kewalahan dengan kerja pikiran dan perasaan kita sendiri. Agar kita punya relasi yang sehat dengan batin kita sendiri. Sehingga hidup kita secara utuh juga jadi sehat.

Apakah kamu juga pingin hidup sehat?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

9

Ketika Tubuh Berdoa, Apakah Pikiranmu Juga Ikut Berdoa?

Berikut cerita pendek yang bisa dijadikan renungan.

Di sebuah acara keluarga, ada anak kecil yang memegang erat beberapa balon. Ia begitu senang dengan balon yang ia punya. Sebelum menyantap makanan yang udah tersaji, mereka semua berdoa bersama terlebih dahulu. Di tengah berdoa… Apa yang terjadi?

Balon yang ia pegang terlepas dari tangannya. Ia mengikuti satu per satu balon itu dan ingin balon-balon itu kembali dalam genggaman. Jadi di tengah semua orang lagi berdoa, ia berjalan bahkan berlari ke sana ke mari mengikuti balonnya.

Anak kecil itu seolah enggak melihat orang-orang di sekelilingnya sedang berdoa. Kesadarannya hanya terarah ke balon. Setelah berdoa selesai, bapak ibunya bercampur rasa malu akan kelakuan anaknya di depan keluarga, mereka langsung marah-marah kepadanya.

“Kamu tu tadi lari ke sana ke mari ngejar balonmu saat kami semua sedang berdoa! Kami jadi terganggu! Kenapa kamu gak ikut berdoa bersama kami?! Apa kamu gak lihat kami ini sedang doa?! Kamu malah seenaknya aja berlarian di sela-sela kami!”

Dan jawab anak kecil itu…

“Saat aku ngejar balon-balon itu, saat semua sedang berdoa, aku sama sekali enggak melihat semua orang.” Kesadaran anak kecil itu hanya mengarah ke balon-balon yang dia cintai. Lalu dia lanjut berkata…

“Tapi kenapa bapak ibu yang sedang berdoa, yang sedang berbicara kepada Tuhan, masih melihat aku yang ngejar balon?”

Kemudian suasana seketika jadi sunyi…

Kalau kita benar cinta pada Tuhan, seperti anak kecil yang mencintai balonnya, ketika kita berdoa, bukan hanya tubuh aja yang berdoa, tapi pikiran juga ikut berdoa. Kesadaran kita hanya mengarah kepadaNya yang kita cintai. Kita jadi tidak gampang terganggu.

Betapa sering di saat kita berdoa, bicara pada Tuhan, kita masih aja terseret hanyut dengan berbagai hal yang bukan Dia. Di antaranya adalah memori masa lalu & imajinasi masa depan yang seringkali berhasil mencuri perhatian kita. Kita perlu belajar dari anak kecil yang mengejar balon.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12

Belajar Tidak Tahu. Belajar Penge-tidaktahu-an

Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber yang saya pelajari & sebatas saya memahami. Salah satunya dari video Eckhart Tolle, berjudul Comfortable Not Knowing.

Pingin tau: Di mana ya kamu bakal dapet pacar? Apakah dia beneran jodohmu? Kapan kamu nikah? Kapan kamu sukses? Gimana ya hidupmu setelah nikah? Dan banyak lagi pertanyaan yang kamu pingin tau jawabannya?

Apakah kita bisa tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu?

Banyak pertanyaan di hidup ini yang gimanapun juga kita tidak bakal tau jawabannya apa

Termasuk pertanyaan,

“Apa kamu tau & mengenal dirimu sendiri?”

Kalau kita jawab “iya tau”, itu lebih ke secara konsep. Hasil thinking mind.

Iya, kalau secara konsep, sebatas hasil thinking mind, kita merasa tau ini itu.

Tapi ketika kita mulai melatih kesadaran diri (observing mind-mindfulness), maka kita jadi belajar berani mengakui bahwa banyak hal di hidup ini yang sebenarnya kita tidak tau & itu tidak apa-apa.

Thinking mind akan selalu cerewet bertanya, mencari jawabannya, merasa udah nemu jawabannya terutama yang dirasa nyaman, dsb.

Tapi di tingkat lebih dalam, kita perlu belajar untuk nyaman dengan ramainya tanya & berbagai ulah thinking mind.

Belajar nyaman di kondisi tidak tau.

Dan hanya dengan belajar nyaman dengan berbagai tidak tau itulah maka kita bisa benar-benar tenang.

Iya, enggak mudah. Karena thinking mind-ego keakuan selalu merasa tidak nyaman dengan kondisi tidak tau. Akan protes dengan mulai mikir, mikir, mikir mencari jawabannya biar tau.

Semakin ego kita besar, semakin kita takut dengan kondisi tidak tau: “Pokoknya aku harus tau!”. Terus cemas mencari, mencari, mencari, hingga sok tau.

Belajar nyaman dengan tidak tau ini juga bermanfaat dalam menjalin hubungan.

Kalau hubungan sebatas di dimensi thinking mind yang berambisi harus tau, dan merasa sok tau, maka hanya penuh asumsi, judgment, orang lain sebatas kumpulan memori usang di masa lalu.

Ketika di dimensi observing mind, nyaman dengan tidak tau, maka kita jadi berjarak dgn judgment, dsb hasil thinking mind.

Bukan berlandaskan thinking mind yang penuh dengan kesoktauannya, tapi berlandaskan nyaman dengan tak tau, maka hubungan kita jadi terkoneksi dengan level yang lebih dalam.

Relate dengan kata Socrates:

“Satu-satunya kebijaksanaan yang sebenarnya adalah kamu tau bahwa kamu tidak tau.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

50

Orang Sukses & Bahagia Karena Memang Terlahir atau Berbakat Sukses & Bahagia

Tulisan ini hasil rangkuman sebatas apa yang saya pelajari, salah satunya dari buku The Art of Thinking Clearly – Rolf Dobelli. Saya tulis ulang sesederhana mungkin apa saja yang saya pahami. Saya jadi belajar lagi & semoga bermanfaat juga buat teman-teman.

Ternyata ini bisa dipelajari dari ilmu Psikologi Kognitif. Yuk belajar sehatkan mental dengan sadari pikiran.

Kita mulai dari, misal kita lihat para perenang & pingin punya bentuk tubuh yang bagus seperti perenang. Lalu pikiran kita disadari/tidak cenderung berasumsi: Kalau aku rajin renang, maka bentuk tubuhku akan bagus.

Padahal kenyataannya ada kemungkinan: Mereka jadi perenang karena bentuk tubuh mereka sudah bagus. Atau setidaknya mereka sudah berbakat punya bentuk tubuh yang bagus.

Jadi: Bukan hanya “jadi perenang maka bentuk tubuh mereka bagus”. Tapi berlaku juga: “bentuk tubuh mereka bagus sehingga mereka jadi perenang”.

Contoh lain: Kita lihat model, kulit wajahnya halus mengiklankan produk skincare & kita pingin punya kulit wajah halus seperti dia.

Lalu pikiran kita disadari/tidak, berasumsi: Kalau aku pake produk itu, maka kulit wajahku akan halus seperti dia.

Padahal kenyataannya: Dia itu terpilih jadi model skincare karena terlebih dulu kulit wajahnya udah halus.

Jadi: Bukan karena pake produk yang diiklankan itu maka kulit wajahnya jadi halus.

Tapi: kulit wajahnya halus sehingga dia jadi model mengiklankan skincare itu.

Kita ketipu pikiran kita sendiri: Yang mestinya sebagai sebab, pikiran anggap sebagai akibat. Kalau kita sadar akan hal ini, kita enggak bakal mudah terbujuk rayu oleh iklan.

Contoh lain lagi: Pikiran kita disadari/tidak, berasumsi: Orang jadi pintar karena kuliah di kampus hebat itu.

“Orang pintar” sebagai akibat.

Padahal kenyataannya: Orang masuk kampus itu karena dia emang orang pintar. Jadi yang masuk situ emang orang-orang yang udah pintar.

“Orang pintar” sebagai sebab.

Jadi: Bukan semata karena kuliah di kampus hebat itu maka dia jadi pintar. Tapi banyak faktor. Salah satunya: Seleksi masuk kampus itu yang ketat. Jadi dia emang orang pintar sehingga dia kuliah di kampus itu.

Nah gimana kalau persoalan sukses & bahagia?

Orang yg sukses & bahagia menulis buku, lalu bikin seminar. Pikirannya & pikiran kita, disadari/tidak, berasumsi: Orang jadi sukses & bahagia karena melakukan rahasia2 yang ditulis di buku & dibagikan di seminar.

“Orang sukses & bahagia” sebagai akibat.

Padahal kenyataannya: Orang yg sukses & bahagia itu juga ada pengaruh karena emang terlahir atau berbakat sukses & bahagia.

“Orang sukses & bahagia” sebagai sebab.

Kurang lebih seperti kata 2 ahli ilmu sosial, David Lykken & Auke Tellegen: “Berusaha untuk jadi lebih sukses & bahagia itu seperti berusaha untuk menambah tinggi badan.”

Jadi misal: Jatah sukses & bahagia seseorang itu di nilai 7. Sekarang nilainya 5. Ya bisa sih dengan berbagai upaya nilainya ditingkatkan jadi 7. Tapi gimana pun juga meski sengotot apapun, enggak akan bisa kalau nilainya ditingkatkan jadi 9.

Kesimpulan: Sadari tipuan pikiran yang suka menganggap sesuatu sebagai akibat, padahal sebenarnya sebagai sebab. Kalau sadar hal ini, kita jadi tidak tergesa bereaksi, tidak gampang percaya omongan orang. Kita lebih tenang. Sadari & terima jatah jalan cerita hidup kita masing-masing. Amor Fati.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10