Menyadari Apa yang Sebenarnya Kita Takuti

Reading Time: 2 minutes

(Seperti biasa, yang saya bagikan bukan mengarah ke gimana cara mengatasinya (How). Tapi lebih ke belajar memahami rasa takut. Menyelami rasa takut (Why). Karena dengan benar-benar memahami, akan sangat membantu mengurai rasa itu. Bahkan di titik tertentu, enggak perlu lagi upaya untuk mengatasinya.)

Abis patah hati, jadi takut jatuh cinta lagi. Takut nyakiti, takut disakiti.

Gagal bikin takut nyoba lagi. Takut gagal lagi.

Setelah sukses bikin karya, jadi takut bikin karya lagi. Takut gak sesukses sebelumnya.

Sedang ngalami? Gimana sebaiknya menyikapi rasa takut?

Sadari dulu: “Apa yang sebenarnya kita takuti?” Misal: Kita takut ruang gelap. Apakah yang kita takuti KENYATAAN ruang gelap? Atau sebenarnya yang kita takuti lebih ke BAYANGAN-IMAJINASI di pikiran kita sendiri, mengenai apa yang AKAN terjadi setelahnya di ruang itu?

Iya. Seringkali yang kita takuti bukan kenyataannya. Tapi yang kita takuti lebih ke bayangan-imajinasi pikiran kita sendiri, terkait masa depan yang belum pasti terjadi. Apalagi kalau bayangan-imajinasi itu, kita perkirakan kalau terjadi akan berbahaya buat diri kita. Apalagi kalau bayangan-imajinasi itu terjadi, kita rasa akan sangat berpengaruh pada harga diri & keberlangsungan hidup kita.

Juga makin bayangan-imajinasi itu terkait sesuatu yang kita rasa penting, makin besarlah rasa takut itu. Contoh: Kamu merasa hubungan cinta itu sangatlah penting, maka kamu jadi serba takut patah hati. Kamu merasa kesuksesan itu segala-galanya, maka kamu jadi sangat takut gagal.

Tapi gimanapun juga, kita sadari dulu: Yang kita takuti sebenarnya lebih ke bayangan-imajinasi pikiran. Jadi urusannya lebih antara diri-pikiran.

Balik ke takut ruang gelap. Kenyataan ruang gelap itu sebenarnya hakikatnya netral-kosong. Jadi menakutkan karena ulah pikiran. Begitu pula jatuh cinta, patah hati, sukses, gagal & segala sesuatunya. Kenyataan itu hakikatnya netral-kosong. Yang bikin tidak netral, jadi drama adalah pikiran.

Jadi jatuh cinta itu menakutkan atau tidak, karena pikiran kita. Bukan karena kenyataan jatuh cinta. Jatuh cinta, patah hati, sukses, gagal itu sebatas momen-peristiwa. Jadi menakutkan atau tidak itu karena bayangan-imajinasi pikiran, yang bereaksi atas momen-peristiwa.

Maka, disarankan berlatih sadari saja bayangan-imajinasi itu. Kalau berusaha mengubah bayangan-imajinasi itu dengan bayangan-imajinasi yang diinginkan, maka kita tetap berlandaskan pikiran, tidak benar-benar stabil, masih ada konflik di dalam. Dan bisa-bisa akan muncul rasa takut yang beda bentuknya.

Bukan bayangan-imajinasinya yang perlu diubah, tapi gimana relasi kita dengan bayangan-imajinasi itu yang perlu diperhatikan. Maka berlatihlah sadari saja pikiran itu. Enggak perlu diubah, enggak perlu dilawan. Sehingga lebih terkoneksi dengan kenyataan yang selalu netral-kosong.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

43

Melepaskan Beban dan Ketidaknyamanan

Reading Time: < 1 minute

“Gimana cara melepaskan semua beban & ketidaknyamanan di hati?” Berhentilah berusaha melepaskannya.

Melepaskan itu baik. Tapi selama ini, kita memahami “melepaskan”-“let it go” itu sebagai suatu usaha. Berusaha mengusir pikiran, berusaha melawan perasaan, berusaha melupakan, berusaha menyingkirkan ingatan, berusaha menghilangkan bayangan yang tidak nyaman dan berusaha-berusaha lainnya.

Berbagai usaha itu yang melakukan masih pikiran. Asal usaha itu masih pikiran. Landasannya masih pikiran. Misal: Pikiran negatif atau perasaan sedih. Kita berusaha mengusir dan melawannya. Usaha itu juga berasal dari pikiran. Pikiran diadu dengan pikiran. Akibatnya batin mengalami ketegangan.

Pikiran negatif, perasaan sedih, enggak bikin kita menderita. Kita menderita lebih karena kita berusaha menolak dan menendangnya. Jadi, disarankan kita tidak melakukan usaha yang berlandaskan pikiran. Tapi berlatih kesadaran. Termasuk hanya sadari apapun yang ingin kita lepaskan.

Bukan berusaha menghilangkan atau melepaskan pikiran negatif beserta perasaan yang tidak nyaman (sedih, takut, ragu, dan sebagainya). Tapi berlatih sadari saja apapun reaksi kita (menolak, melawan, mengusir) terhadap pikiran dan perasaan itu.

Jadi, bukan “melepaskan”-“let it go” sebagai suatu usaha yang keras. Tapi disarankan: “let it be”. Berlandaskan kesadaran, kita membiarkan seapaadanya, memberi ruang selapangnya pada apapun pikiran dan perasaan yang datang. Bukan berlandaskan pikiran yang bereaksi berusaha melepaskan.

Sehingga sebaiknya, melepaskan itu bukan akibat dari usaha keras yang berlandaskan pikiran. Tapi melepaskan itu akibat dari surutnya usaha pikiran. Melepaskan yang merupakan akibat dari hanya menyadari. Melepaskan yang berlandaskan kesadaran. The beautiful way to let it go is… let it be.

Jadi, bukan dengan sengaja berusaha melepaskan (mengusir, melawan, menghilangkan) pikiran dan perasaan itu ya. Tapi disarankan berlatih mengurangi berbagai usaha itu, mengurangi menolak dan melawannya. Gimana caranya? Sadari saja pikiran dan perasaan. Sadari saja usaha-usaha itu.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

23

Gimana Biar Enggak Gampang Ke-Trigger?

Reading Time: 2 minutes

“Sering ke-trigger kalau orang lama yang telah menyakiti hati muncul tiba-tiba.”

Semakin dalam sakit hatinya, saat orang yang menyakiti muncul tiba-tiba, semakin mudah & ramai memori itu muncul kembali. Semakin mudah juga kita hanyut terseret memori itu. Kita terpenjara pikiran, ngejudge: “Dia tu orangnya gini gitu”. Kita anggap dia sebatas kumpulan memori.

Karena enggak ada upaya mengurai pola itu, maka kita jadi mudah ketrigger tiap bertemu. Reaksi sama terus berulang: Ketemu – muncul memori – terseret memori – muncul rasa marah – terseret marah – enggak ketemu – ketemu lagi – muncul memori – dst.
Meski enggak ketemu, kita tetep terseret memori & marah. Beresiko berbahaya buat kesehatan diri kita sendiri.
Tiap bertemu sering memicu munculnya pola memori kan? Misal: Ingatan saat dia memutuskan hubungan, saat dia mengejek, dsb. Nah coba sekarang kalau bertemu lagi, perlahan berlatih sadari napas. Tarik napas, sadari. Embuskan napas, sadari. Jangkarkan diri di saat ini, di sini-kini.

Tentu ada pilihan kita pergi menghindar. Boleh-boleh aja. Tapi adakalanya kita enggak bisa dengan mudahnya menghindar. Misal serumah atau sekantor. Lagipula pergi menghindar hanya membereskan aspek eksternal-di luar. Masalah utamanya, lukanya kan di dalam, ya kita tetap perlu berupaya memulihkannya.

Berlatih sadar diri di sini-kini. Bukan berpikir positif. Bukan berusaha melupakan atau menghilangkan ingatan. Tapi berlatih sadari saja memori itu & enggak terseret memori yang muncul. Bukan pula ngejudge orang itu sebatas hanya kumpulan memori usang. Enggak memenjarakan dia di masa lalu.

Selama ini, memori muncul, kita ngasih reaksi tertentu kan? Misal: melawan, berusaha melupakan. Sekarang, kita hanya menyadarinya. Sikap kita pada memori, berubah. Kita enggak lagi mengikuti “permainan” lamanya. Memori pun enggak bisa “bermain” seperti sebelumnya. Pola lama memori pun terurai.

“Kalau tiap bertemu, dia terus bersikap atau ngomong yang nyebelin. Gimana?”

Tentu boleh jaga jarak. Atau, selama ini reaksi kita juga cenderung sama, misal: nada bicara ngegas. Nah sekarang, kita berlatih ngasih respon yang berbeda. Ego dia akan merasa ada yang enggak seperti biasanya. Karena kita enggak ikut “bermain”, dia pun sulit tetap “memainkan” pola lama.

Berlatih sadar penuh hadir utuh di sini-kini, berlatih welas asih. Sadar akan adanya ruang yang sangat lapang di dalam diri sendiri. Seperti langit yang tiada batas, tiada tepi menerima semua bentuk awan. Enggak lagi mudah ketrigger, lepas dari pola lama. Be a game changer.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

23

Sudah Dewasa Beneran atau Masih Kekanak-kanakan?

Reading Time: < 1 minute

“Jadi 1 anak beranggapan sepatunya bagus, 1 anak lainnya beranggapan sepatunya jelek. Akhirnya kedua anak ini bertengkar,” jelas ibu kedua anak itu.

Kenyataan bahwa “sepatu itu ada”, bisa diterima kebenarannya oleh kedua anak itu. Bahkan kenyataan “sepatu itu ada” tidak bisa ditolak oleh siapapun yang melihat sepatu itu.

Tapi penilaian mengenai sepatu itu, bagus atau jelek, suka atau tidak suka dengan sepatu itu, sepatu itu dibandingkan dengan sepatu lain, ingatan atau bayangan dan perasaan terkait sepatu itu adalah reaksi psikologis di dalam masing-masing anak. Atau konsep di pikiran, bukan kenyataan seapaadanya. Yang satu percaya sepatunya bagus, sedangkan satunya percaya sepatunya jelek.

Seringkali kita menertawakan anak kecil yang bertengkar sampai sebegitunya hanya karena sepatu. Hanya karena punya konsep di pikiran yang berbeda terkait sepatu. Padahal kita yang bukan lagi anak kecil, yang katanya sudah dewasa, bisa jadi juga masih sering bertengkar hebat hanya karena punya konsep di pikiran yang berbeda terkait suatu hal.

Contoh: Buat seorang penggemar MU, konsep tentang MU menang, percaya bahwa MU pasti menang, bisa diterima. Tapi buat seorang bukan penggemar MU, misal penggemar Liverpool, konsep tentang MU menang, percaya MU pasti menang, enggak bisa diterima alias ditolak.

Begitu pula yang terjadi di banyak hal lainnya.

Apa yang sebatas kita percaya, apa yang orang-orang pada percaya itu kan berupa konsep-konsep di pikiran, bukanlah kenyataan seapaadanya. Belum tentu benar, relatif. Jadi ya kita ini enggak perlulah ribut tengkar sampe sebegitunya hanya karena perbedaan konsep di pikiran.

Atau sebenarnya kita ini manusia-manusia yang merasa dewasa, tapi kenyataannya masih kekanak-kanakan. Bahkan lebih kekanak-kanakan dibanding anak-anak.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12

Kenyataan, Kesadaran, Pikiran

Reading Time: < 1 minute

Sebenarnya ketika kita misal melihat seseorang, kita menyadari orang itu. Dan kenyataan yang ada sebatas: orang itu ada di situ. Titik. Itu saja. Karena tidak ada pembandingan, tidak ada suka maupun tidak suka, tidak ada reaksi psikologis sedikit pun. Yang ada hanya: orang itu ada di situ.

Siapapun sepakat akan kenyataan itu. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Dan tidak ada keterpisahan antara satu orang dengan yang lainnya. Karena tidak ada si “aku”. “Orang itu ada di situ” adalah kenyataan seapaadanya yang kita sadari.

Tetapi tadi pagi saya melihat seseorang, lalu di kepala saya muncul banyak narasi, asumsi mengenainya. Saya cerita tentang orang itu kepada istri saya. Narasi, asumsi, dan cerita itu sudah bukan kenyataan seapaadanya orang itu. Karena dalam menceritakannya, diikuti memori, kenangan, emosi, penghakiman saya terkait orang itu. Akibatnya saya jadi tidak lagi benar-benar menyadari kenyataan seapaadanya orang itu.

“Dia dulu baik, sekarang enggak; Dia lebih baik daripada orang sebelumnya; Aku lebih suka dia daripada…; Dia pemalas; Dia menyebalkan; Dia…” adalah konsep di pikiran. Bukan kenyataan seapaadanya. Konsep di pikiran tiap orang berbeda-beda. Begitu pula yang terjadi ketika kita melihat apapun. Termasuk ketika kita melihat pikiran, perasaan, melihat diri kita sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10

Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Reading Time: 2 minutes

“Temen udah pada nikah. Aku? Pacar aja gak punya.
Pendapatannya udah pada 20 jutaan lebih. Aku mau ke 10 juta aja beratnya ampun.
Udah pada punya rumah, punya anak. Kalau aku kok rasanya masih jauh.”

Gimana menyikapi pikiran membandingkan diri dengan orang lain?

Sadari dulu, barangkali pikiran kita emang gemar membandingkan. Cenderung berpikir ‘what should be’ bukan ‘what it is’. Karena pikiran kita terlatih begitu. Berbagai hal yang kita alami di masa lalu, masa kecil-remaja, mengkondisikan pikiran kita untuk membandingkan.

Pikiran kita jadi berlandaskan membandingkan. Cenderung mengarah ke ‘what should be’, sebagai pelarian dari ‘what it is’. Membandingkan, bisa jadi merupakan upaya pikiran untuk melarikan diri dari seapaadanya diri kita. Kita sadari itu dulu…

Maka saat muncul pikiran membandingkan, itu wajar. Enggak perlu denial. Enggak perlu dilawan. Kalau melawan pikiran yang membandingkan berarti juga terjebak dalam pembandingan. Perlawanan itu pun berlandaskan pembandingan antara membandingkan itu buruk dengan enggak membandingkan itu baik.

Ketika muncul pikiran membandingkan, sadari aja. “Ooo ini pikiranku baru membandingkan.” Pikiran tidak perlu diregulasi. Dengan begitu, kita jadi keluar dari “pasir hisap pikiran”. Dari mode pikiran ke mode kesadaran. Pelan-pelan pikiran membandingkan itu akan surut sendiri. Beda kalau pikiran itu dilawan dengan pikiran. Jadi overthinking.

“Diri enggak bandingin, tapi orang lain (orang tua, pasangan) yang banding-bandingin. Gimana?”

Itu di luar kendali kita. Kita enggak bisa ngatur mulut orang lain. Sikap orang lain berdasarkan kesadarannya masing-masing. Lagipula, orang lain membandingkan, dicerna pikiran kita. Jadi yang kita hadapi bukan ucapan orang lain, tapi ya pikiran kita sendiri.

Buat ngendurin jeratan pikiran membandingkan, sadari tiap orang punya jatah rute perjalanan hidup yang beda-beda. Seperti misal: si A dari rumah di Jogja-Surabaya, naik pesawat. Si B dari rumah di Semarang-minimart depan komplek, naik sepeda. Enggak ada gunanya bandingin kecepatannya, siapa yang lebih cepat, dan sebagainya.

Karena jatah rute perjalanan hidup yang beda-beda, maka apa yang terjadi selama perjalanan juga beda-beda. Ada yang umur sekian, udah ngalamin. Ada juga yang bertahun-tahun melewati umur sekian, baru ngalamin. Ada yang di hidupnya dapat jatah mengalami. Ada juga yang tidak. Jadi enggak sesuai kalau dibandingkan.

Juga, kita menginginkan hidup org lain. Padahal ketika hidup kita udah seperti hidup orang itu, bisa jadi justru banyak masalah. Lebih menderita dan bahkan pingin hidup seperti hidup kita sebelumnya aja. Yang kita inginkan, bisa jadi bukan yang kita butuhkan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapadanya.

15

Cemburu, Membandingkan dan Insecure

Reading Time: 2 minutes

Cemburu. Mungkin seseorang berlebihan cemburu sebab dulu pernah terluka akibat dikhianati. Yang dibutuhkan adalah memulihkan luka itu. Kalau tidak, berlebihan cemburu bisa-bisa jadi penyusun hubungan yang tidak sehat. Lalu terluka lagi, makin cemburu lagi. Lingkaran setan, tidak berkesudahan.

Selain karena luka, penyebab cemburu berlebihan adalah membandingkan. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Gimana cara mengurangi membandingkan? Salah satunya, kita perlu sadari dulu: “Akan selalu ada orang lain yang mengalahkan kita di satu aspek tertentu. Akan selalu ada.”

Sehebat apapun kita, meski kitalah satu-satunya yang bisa bikin seseorang bahagia… akan selalu ada yang bisa mengalahkan kita di satu aspek tertentu. Misal: Orang yang dekat dengannya, enggak secantik atau seganteng kamu, tapi dia lebih sukses. Atau enggak sesukses kamu, tapi badan dia lebih bagus.

Karena membandingkan di satu aspek – atau setidaknya hanya beberapa aspek tertentu – dengan orang itu, bukan secara utuh, misal: cuma aspek cantik atau gantengnya, suksesnya, bentuk badannya, jumlah followersnya, dan sebagainya… maka kita insecure dan berlebihan cemburu. Iya. Selain membandingkan, berlebihan cemburu itu sebenarnya akarnya adalah rasa insecure.

Lalu gimana sebaiknya menyikapi membandingkan dan insecure ini?

Berulang kali ingatkan diri: Sehebat apapun kita, akan selalu ada yang bisa mengalahkan kita di satu aspek tertentu. Dan perluas kesadaran akan diri sendiri. Lihat diri lebih utuh. Bukan pecahan, bagian per bagian. Sadari juga bukan hanya 1-2 aspek saja yang bikin kita istimewa buat orang yang kita cintai.

Orang yang kita cintai juga mesti menyadari: dia mencintai kita bukan hanya karena 1-2 aspek saja, tapi karena diri kita secara utuh kan ya? Iya. Cuma kalau sudah orang lain mesti begini begitu berarti kan di luar kendali kita ya.

Seandainya kita sudah melihat diri lebih utuh dan ternyata pasangan masih lebih milih orang lain yang bikin kita cemburu… ya, tidak jadi masalah. Sekalipun patah, kita enggak akan hancur berantakan. Utuh atau tidaknya kita, enggak bergantung pada siapapun, termasuk pada pasangan kita.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13

Pasar Spiritual-Healing Modern

Reading Time: 2 minutes

Belakangan saya membaca lagi buku Jack Kornfield, berjudul A Path With Heart: A Guide through the Perils and Promises of Spiritual Life. Salah satu bagiannya membahas soal pasar spiritual modern. Dalam menjalani kehidupan spiritual, intinya sangat sederhana, yaitu kita perlu berlatih jadi manusia yang biasa-biasa saja, yang menjalani hidup ini dengan seapaadanya.

Dalam pasar spiritual modern, juga pasar healing modern sekarang ini, bermunculan yang berperan sebagai “penjual” berusaha menggaet “pembeli” dengan janji-janji manis. Menawarkan kepastian akan hasil, akan pencerahan, terwujudnya keinginan, hidup berkelimpahan, keagungan, kemuliaan, level kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, dan masih banyak lagi lainnya.

Tak jarang reaksi kita pun langsung terpikat dan terpesona kepada hal-hal yang wow nan luar biasa semacam itu kan? Kenapa? Ya karena itulah yang sangat diinginkan ego kita: Lebih hebat, berstatus lebih tinggi, lebih spiritual dibandingkan orang lain. Ego sangat takut akan ketidakpastian, sehingga begitu mendambakan kepastian.

Padahal di sisi lain, janji-janji manis itu cuma sebatas salah satu teknik promosi dari “penjual” di perdagangan spiritual. Itu bukanlah inti dari spiritual. Pada akhirnya, kehidupan spiritual bukanlah proses mencari atau mendapatkan kondisi yang heroik. Bukan pula mencari atau mendapatkan superpower. Kenyataannya, pencarian dan keinginan untuk mendapatkan hal semacam itu malah bisa menjauhkan kita dari kehidupan spiritual.

Kalau kita tidak berhati-hati, tanpa sadar kehidupan spiritual kita malah jadi ajang perlombaan ambisi, pengagungan diri, materialisme, kesombongan dan memanjakan ego. Hati-hati. Spiritual, mestinya jadi ruang yang akrab dengan mengecilkan ego. Seringkali terjadi malah lebih licin dan banyak yang terpeleset untuk membesarkan ego.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

9

Letak Bahagia

Reading Time: < 1 minute

Letak bahagia yang sebenarnya ya di dalam diri, di hati. Tapi selama ini kita mencarinya di luar diri. Di peristiwa, momen, tempat, orang. Jadi keliru lokasi mencarinya. Udah tau lokasi bahagia bukan di luar diri, bukan pemberian orang lain, tapi kenapa kita terus aja mencarinya di luar diri?

Karena itu kita rasa lebih mudah daripada mesti menemukan di dalam diri. Daripada mesti berhadapan dengan pikiran-perasaan, dengan diri sendiri. Daripada mesti menyelami sisi gelap diri.

“Menjadikan orang lain sebagai sumber kebahagiaan, bisa jadi lho ya diam-diam adalah pelarian kita dari ketakutan dan ketidaktrampilan berhadapan dengan pikiran-perasaan kita sendiri.”

Oya kamu pernah denger atau baca cerita Sufi: Nasruddin Mencari Jarum? Mohon izin saya cerita ya… Suatu ketika, Nasruddin tampak bingung mencari sesuatu di depan rumahnya.

Lantas seseorang lewat, melihat dan bertanya, “Sedang apa engkau?”
Jawab Nasruddin, “Aku sedang mencari jarumku yang hilang.”

Orang yang bertanya pun turut membantu mencari.
Setelah berjam-jam enggak ketemu, ia bertanya lagi: “Kira-kira di mana kamu menjatuhkan jarum itu?”
Jawab Nasruddin, “Di dalam rumah.”

Orang yg udah berjam2 ikut membantu: “… … LALU KENAPA KITA BERJAM-JAM NYARI DI LUAR RUMAH, BUKAN DI DALAM RUMAH?!”
Jawab Nasruddin, “Karena di luar lebih terang, lebih mudah, dibanding di dalam.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya

14

Menjelaskan Kondisi Mental ke Orang Tua

Reading Time: 2 minutes

Menjelaskan kondisi mental (yang sedang tidak stabil) ke orang tua itu bukanlah persoalan yang mudah. Tentu boleh-boleh saja setiap anak punya pertimbangan sendiri-sendiri untuk memilih ngomong soal kondisi mentalnya ke orang tua atau enggak.

Di sisi lain, cukup banyak hubungan orang tua-anak itu enggak baik. Enggak deket. Jadi anak mengalami kesulitan, bahkan takut dan milih enggak ngomong soal kondisi mentalnya ke orang tuanya sendiri. Kenyataan yang miris. Dan ini bisa jadi penyebab berbagai masalah lainnya.

Untuk komunikasi yang baik soal kondisi mental anak ke orang tua, 2 pihak mesti mau saling memahami. Generasi anak kalau enggak hati-hati bisa terpeleset ke glorifikasi dan mendramatisasi kesehatan mental. Generasi orang tua sebaliknya, bisa terjebak ke sikap sama sekali enggak sadar akan kesehatan mental atau sikap: “Apaan sih sehat mental, kamu kurang bersyukur & beriman.”

Kalau umur udah dewasa, udah enggak perlu pendampingan orang tua, udah punya penghasilan sendiri… ngomong ke orang tua atau tidak, disarankan tetaplah berupaya memulihkan. Lewat edukasi diri, belajar, baca buku, ikut pelatihan. Atau bisa juga konseling, cari bantuan profesional.

Kalau mau ngomong ke orang tua, pertama-tama, orang tua sebaiknya membuka diri dulu. Enggak merasa paling benar sendiri. Mau dengerin sepenuh hati. Bukan adu derita, bukan juga nanggapin: “Kurang bersyukur, kurang dekat dengan Tuhan, dan sebagainya”. Sikap orang tua mesti begini dulu. Kalau enggak, berbagai upaya anak buat jalin komunikasi jadi menemui jalan buntu.

Kalau “pintu” orang tua udah kebuka, barulah anak bisa lanjut. Ada 4 hal mendasar yang perlu diperhatikan:

1. Terutama buat yang enggak biasa ngomong sama orang tua, tuliskan dulu aja. Enggak perlu sampai bikin script. Poin-poin yang mau diomongin aja. Biar pas ngomong sesuai dengan inti yang memang mau disampaikan.

2. Pilih tempat dan waktu yang sekiranya nyaman buat ngobrol. Misal di rumah. Saat momen bersantai. Atau misal di rumah saat melakukan kegiatan rutin bersama yang sifatnya santai. Bisa juga setelah makan bersama. Sayangnya, di zaman sekarang, kebersamaan kayak gini  sepertinya udah jarang ya?

3. Kalau diperlukan, sebelumnya kasih tau dulu semacam “aturan mainnya”. Misal: saat ngobrol, lalu orang tua bertanya, kamu punya hak untuk belum bisa atau enggak bisa menjawabnya. Jadi orang tua enggak terus menyerang dengan bermacam pertanyaan. Atau orang tua enggak boleh merespon dengan: kurang bersyukur, beriman, dan sebagainya.

4. Kalau perlu, sebelumnya kasih tau dulu apa yang mesti dilakukan: “Kalau nanti aku misal nangis, tolong jangan bilang aku kurang dekat dengan Tuhan. Tapi tolong enggak perlu ngomong apa-apa. Peluk aku aja ya.”, dan sebagainya. Minta tolong orang tua untuk support dalam pemulihan kesehatan mental.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

16