Marah Sama Seseorang dan Ingin Meluapkannya?

Ini kejadian sekian tahun yang lalu. Aku berjalan sendirian di trotoar jalan. Tanganku membawa banyak barang. Braaak! Seseorang jalan dari belakang begitu kasar menabrakku. Aku terjatuh dan barang bawaanku berantakan.

Aku berusaha berdiri sambil samar-samar melihat layar hpku retak, barang berceceran. Baru sadar, kacamataku terlepas. Aku mau tergesa meluapkan marahku, “Bisa jalan gak sih, Njing?! Punya mata tu dipake, Su!” Tapi sebelum ku lontarkan dari mulutku, aku melihat ternyata…

Orang yang menabrakku itu berkaki satu dan buta… Barang bawaannya juga jatuh berantakan. Kemarahanku yang tadinya enggak tanggung-tanggung ingin kuluapkan, seketika lenyap. Berubah jadi welas asih & keinginan untuk membantunya berdiri.

Berubah pula jadi kata, “Bolehkah aku membantumu? Apa ada bagian yang memar atau semacamnya?” Pengalaman itu membuatku belajar: Di hidup ini, situasinya juga kurang lebih seperti itu. Yang “menabrakku”, menyakiti hatiku, baik sengaja maupun tidak, ternyata dia dalam kondisi terluka.

Ternyata dia terluka karena peristiwa-peristiwa masa lalu yang melukai batinnya. Begitu pula diriku. Dengan terus belajar sadar diri bahwa orang “menabrak” karena dia terluka, kita pun jadi tak tergesa meluapkan marah. Kita jadi lebih welas asih, bahkan kita punya keinginan untuk mengulurkan tangan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

1

7 Cara Mengatasi Kecanduan

Kecanduan main game, nonton drama, porno, social media, alkohol, merokok, shopping, ngemil, makan-minum manis, gigit kuku atau kebiasaan yang relate dengan nervous. Berikut 7 cara saya berhasil mengatasi kecanduan. Belum tentu cocok buat orang lain ya.

1. PERBAIKI POLA ISTIRAHAT & JAM TIDUR

Kenapa ini paling mendasar? Karena mengatasi kecanduan itu butuh tenaga. Tenaga jadi gampang anjlok kalau pola istirahat & jam tidur berantakan. Memperbaikinya misal dengan: Tidur siang, kurangi begadang, sejam sebelum tidur enggak lihat hp, tiap malam meditasi.

2. CARI ATAU BIKIN SUPPORT SYSTEM

Teman yang memberi semangat, teman yang juga lagi berusaha mengatasi kecanduan, bisa juga online support group, kalau perlu minta bantuan profesional (psikolog, psikiater, dsb).

3. TIAP PINGIN MELAKUKAN KECANDUAI ITU, BERLATIH HANYA MENYADARI KEINGINAN

Tidak mudah, tapi saya terus berlatih: Sadari keinginan – Jeda – Tidak reaktif melakukannya – Sadari sensasi tubuh yang muncul – Sadari keinginan yang naik turun pasang surut, seperti ombak – Hanya sadari aja.

4. UBAH LINGKUNGAN

Pelan-pelan berusaha menyingkirkan apapun yang memicu keinginan saya melakukan kecanduan itu. Contoh: Mengatasi kecanduan makan junk food. Jangan sampe ada makanan junk food di rumah. Atau akses saya untuk mengkonsumsinya, saya bikin sulit banget.

5. BERUPAYA MEMULIHKAN BATIN & MERAWAT KESEHATANNYA

Kecanduan biasanya kita gunakan untuk mengalihkan diri dari perasaan yang enggak nyaman. Misal: patah hati, marah sama pasangan, kehilangan seseorang, stres kerja. Jadi perlu memulihkan batin & ganti candu itu dengan kegiatan yang sehat.

6. GANTI CANDU DENGAN KEGIATAN YANG SEHAT

Pola yang terjadi: perasaan enggak nyaman lalu melakukan kecanduan. Candu seolah jadi cara mengatasi perasaan enggak nyaman. Padahal itu hanya mengalihkan. Perlahan ubah pola jadi: perasaan enggak nyaman, lalu misal: meditasi, jalan kaki, makan buah, dsb.

7. SADARI KONDISI-KONDISI YANG JADI TITIK LEMAH MELAKUKAN KECANDUAN

Lalu bikin strategi terkait kondisi itu. Misal: Tiap ke rak snacks di supermarket, selalu beli & di rumah jadi kecanduan ngemil. Maka sebisa mungkin enggak ke rak snacks pas di supermarket.

BISA JUGA MINTA SUPPORT TEMAN

Misal dengan dibikin permainan. Bilang ke beberapa temen, saya lagi berlatih mengatasi kecanduan makan gorengan. Kalau saya ketauan makan gorengan, saya wajib bayar 500 ribu ke mereka.

Yang penting, saya menyikapinya sebagai belajar atau latihan. Jadi bertahap. Pelan-pelan. Enggak bisa saya sekejap langsung berhenti total. Tapi sedikit demi sedikit ada kemajuan lebih baik dalam mengatasi kecanduan. Dan juga perlu benar-benar sadari akibat dari kecanduan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

0

Pandemi, Rasa Bosan & Tidak Ada Liburan

Sejak kecil aku diajari untuk melarikan diri dari perasaan yang enggak nyaman. Misal ketika sedih nangis, aku diminta melihat balon. Atau diberi permen. Mungkin kalau sekarang, diminta nonton youtube. Bertambah usia, aku pun jadi terbiasa melarikan diri dari rasa bosan. Meniru lingkungan, yaitu salah satunya dengan liburan. Apalagi ada kesempatan buat memamerkannya sebagai standar semu kebahagiaan.

Ternyata kebiasaan itu membuatku jadi terpenjara pikiranku sendiri bahwa waktu kosong enggak ngapa-ngapain, apalagi bercampur rasa bosan, itu harus diisi dengan kegiatan & kesibukan. Sesederhana buka social media, mengintip hidup orang lain. Keinginan mengisi yang kosong ini juga membuatku tak jenak melihat sudut atau bagian kosong di rumah. Ingin sekali mengisinya dengan sesuatu. Pokoknya jangan kosong. Kosong itu jelek. Seiring waktu berjalan, aku belajar…

Satu pelajaran yang ngena banget:

“Enggak semua yang kosong harus diisi. Kosong mengandung keindahannya sendiri.” Membuatku merenung… Seperti murid meditasi, saat di awal belajar diberi kertas kosong. Ia merasa harus mengisinya dengan tulisan & coretan. Setelah makin belajar, ia menyadari tak perlu mengisi kertas kosong. Ada keindahan dalam kosong.

Begitu pun gelas, bermanfaat karena bagian kosongnya. Suatu ruang juga bermanfaat karena sisi kosongnya. Hidup yang terisi penuh dengan kegiatan & kesibukan, tak kan ada keindahannya. Perlu luangkan waktu untuk kosong. Maka biar beneran bahagia, aku belajar tak selalu mengisi waktu kosong. Termasuk tak selalu melarikan diri dari bosan. Thing menjadi thing karena no-thing-nessnya. The beautifully empty.

Meski berulang kali lupa, berulang kali pula aku ingatkan diriku sendiri: Rasa bosan, rasa kosong, perasaan enggak nyaman, enggak harus ditumpas dengan liburan. Enggak harus pula dialihkan dengan menikmati distraksi-distraksi. Perasaan enggak nyaman perlu ditemui. Disadari. Sehingga terurai dan tidak terakumulasi yang bisa beresiko meledak di kemudian hari.

Aku sejak belajar menyadari hal ini, apalagi di masa pandemi begini, aku terus ingat:

“Merasa bosan, merasa waktu kosong enggak ngapa-ngapain, merasa enggak nyaman. Ah, aku perlu belajar untuk menemuinya. Tidak lagi aku bergegas melarikan diri. Thing menjadi thing karena no-thing-nessnya. The beautifully empty.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

0

Sakit Hati Karena Omongan Seseorang (2)

Setauku, aku pernah bahkan sering gagap emosi (gapem). Gapem? Gimana itu?

Aku pernah ngalami kejadian yang melukai batinku. Dari patah hati, gagal, kehilangan, ditolak, diremehkan, dsb. Aku menderita karenanya. Dan aku kewalahan sendiri, gagap menghadapi emosi-emosi yang muncul.

Ketika gapem, aku menderita. Dan sadar atau tidak aku menyakiti hati orang lain, membuat orang lain juga menderita, melalui perkataan atau perbuatanku. Dan bisa saja orang yang kusakiti adalah orang yang kucintai. Lalu aku pun berusaha meminta maaf kepadanya. Dan aku berharap dimaafkan.

Di sisi lain, ketika omongan seseorang menyakiti hatiku, aku pun perlu belajar untuk menyadari, melihat derita & luka batinnya. Menyadari mungkin dia juga gagap emosi seperti diriku. Mungkin dia enggak benar-benar ingin menyakitiku. Dia hanya kewalahan dengan gejolak emosi & luka batinnya sendiri.

Dengan kesadaran seperti ini, aku belajar tak bergegas marah kepadanya. Bahkan lebih bisa memaafkannya. Meski buatku, persoalan memaafkan seringkali enggak mudah. Iya, aku jadi korban gagap emosinya. Dia membuatku menderita karena omongannya. Tapi ternyata yang terutama jadi korban dan paling menderita adalah dirinya sendiri.

Dengan melihat lebih dalam dibalik omongannya yang menyakitkan ada luka batin & penderitaan yang dia alami… Dengan menyadari dia adalah korban dari luka batin & deritanya sendiri… Setidaknya membuatku belajar untuk tidak membalasnya, tidak mengatakan atau melakukan seperti yang ia katakan atau lakukan.

Hanya dengan menyadari derita yang dia alami, aku bisa belajar bersikap welas asih kepadanya. Tanpa menyadari itu, bisa-bisa aku malah membalasnya, menyuburkan derita, menambah jumlah orang-orang yang serupa. Jaga jarak dengannya atau pun tidak, yang terpenting aku belajar untuk memafkan dan tidak membalasnya.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

5

Sakit Hati Karena Omongan Seseorang (1)

Sakit hati karena omongan orang tua, pasangan, teman, netizen yang enggak kenal?

Yang aku tau, kalau aku melihat misal setangkai bunga, yang sebenarnya aku lihat itu gambaran bunga, intrapersonal reality mengenai bunga yang ada di pikiranku. Yang aku lihat bukan bunga senyatanya. Bukan absolute reality. Jadi omonganku tentang bunga merupakan konsep, pemikiran, asumsi.

Begitu pula omongan seseorang yang bikin aku sakit hati. Omongannya tentang diriku merupakan konsep, pemikiran, asumsi. Yang sebenarnya dia lihat mengenai diriku itu gambaran diriku, intrapersonal reality diriku yang ada di pikirannya. Yang dia lihat bukan diriku senyatanya.

Diriku senyatanya (absolute reality) misal aku punya hidung, kebenarannya tak bisa ditolak oleh siapa pun, bahkan aku sendiri pun tak bisa menolaknya. Tapi beda persoalan kalau bicara gambaran mengenai diriku (intrapersonal reality).

Intrapersonal reality di kepala seseorang, yang lalu jadi landasan omongan orang lain mengenai diriku, bahkan intrapersonal reality di kepalaku mengenai diriku sendiri, yang lalu jadi landasan menilai diriku sendiri itu belum tentu benar. Omongan dan penilaian sebatas konsep, pemikiran, asumsi.

Beda dengan absolute reality… Konsep, pemikiran, asumsi, omongan orang itu bersifat relatif. Bisa disetujui, bisa juga gak disetujui.

Bagi tim makan bubur diaduk, konsep nikmatnya bubur diaduk dapat disetujui. Bagi tim makan bubur gak diaduk, konsep nikmatnya bubur diaduk tidak disetujui.

Bagi tim Nam Do-san, cerita Nam Do-san sama Seo Dal-mi dapat disetujui. Bagi tim Han Ji-pyeong, cerita ini tidak disetujui.

Omongan orang itu bukan absolute reality. Bahkan tak ada satu pun orang, termasuk diriku, yang mampu memberitahukan sebenar-benarnya kenyataan pada orang lain. Apapun omongan orang, juga yang aku omongkan, termasuk tulisan ini, meski seolah nyata, itu pun udah jadi konsep, pemikiran, asumsi.

Omongan orang mengenai diriku adalah sebuah konsep, pemikiran, asumsi yang berlandaskan intrapersonal reality mengenai diriku, yang juga dipengaruhi sebatas masa lalu pengalamannya hidup selama ini. Jadi aku tak perlu tergesa bereaksi. Aku bebas bisa setuju, bisa juga tidak setuju. Seperti puisi Rumi: “Aku di matamu, bukanlah aku.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6

Tertekan Karena Selalu Nurut?

Yang aku tau, sikapku yang selalu enggak nurut membuatku menderita. Di sisi yang lain, aku diajari atau diwajibkan untuk selalu nurut. Tapi ternyata itu juga membuatku tertekan. Pikiranku cenderung nurut/terpaksa nurut sama orang yang ku”tua”kan. Atau disebut AUTHORITY BIAS.

Aku belajar AUTHORITY BIAS ini salah satunya dari buku The Art of Thinking Clearly – Rolf Dobelli. Sejak kecil aku diajari dari berbagai pihak baik langsung atau tidak, kurang lebih begini: “Sekali aja gak nurut sama yg di”tua”kan, maka kamu berdosa”. Tentu saja yang di”tua”kan menginginkan kondisi seperti itu. Karena menegaskan kuasanya. Memanjakan ego. Menyenangkan.

Padahal yang kutau, pihak yang di”tua”kan juga bisa melakukan salah. Gak selalu benar. Bahkan bisa bertindak jahat. Seperti ditunjukkan Milgram Experiment. Gambar dari Wikipedia. Experimenter (E) minta subjek (T) buat nyetrum L (hanya pura2 kesetrum). T taunya beneran kesetrum.

E minta T buat nyetrum L, bertahap makin tinggi tegangannya. Saat L kesakitan kesetrum, T ingin berhenti, E tetap minta T buat nyetrum. Sebagian besar T nurut buat nyetrum L. Bahkan sampai ke tegangan paling tinggi. Semata-mata karena nurut sama E yang dianggap punya otoritas.

Sebagian hubungan orang tua-anak masih beranggapan perintah orang tua tidak untuk dipertanyakan. Anak gak berani berpendapat karena takut. Sebagian hubungan suami-istri juga begitu. Terutama suami, masih beranggapan lebih berkuasa. Istri harus selalu nurut. Ini kondisi yang tidak sehat.

Di sisi lain, di berbagai bidang, pihak yang punya otoritas malah ingin terus-terusan dapat pengakuan. Memanjakan ego. Karena dirasa menguntungkan, jadi berusaha nguatin authority bias. Misal: pake seragam, aksesoris, simbol, lambang, gelar yang menunjukkan otoritasnya. Agar terkesan lebih “tinggi”.

Karena kenyataan itu, aku perlahan jadi belajar untuk enggak takut dengan adu pendapat, jadi menjalin komunikasi secara terbuka. Belajar menghapus authority bias. Dan ini berkontribusi banyak dalam menyehatkan hubungan keluarga (orang tua-anak, suami-istri).

Seiring berjalannya waktu, aku juga belajar untuk perlahan mengurangi hausku akan pengakuan. Mengurangi authority bias. Dan juga aku perlu terus menyadari, “Apakah pilihan jalan hidupku lebih karena diriku sendiri atau lebih karena aku hanya nurut aja sama otoritas (orang tua, pasangan, dsb)?”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

4

Pikiran yang Selalu Takut?

Yang aku pikirkan sedikit hal aja bisa bikin aku overthinking. Jadi overthinkingku selama ini bukan soal banyak atau sedikitnya pikiranku, tapi lebih ke soal aku terlalu dekat & percaya dengan pikiranku sendiri.

Ketika aku overthinking, dan ketika aku berusaha menghajar pikiran negatif dengan pikiran positif, berusaha memaksa pikiran untuk tenang, maka aku malah semakin overthinking dan sebel sama diri sendiri saat gagal menenangkan pikiranku. Aku capek melawan diriku sendiri.

Kemudian perlahan aku belajar, ternyata pikiranku itu ada: Thinking Mind & Observing Mind.

Nah thinking mind ini tugasnya emang selalu takut. Selalu cerewet ngasih banyak hipotesa, saran, kritik, kemungkinan buruk yang bakal terjadi & sibuk berusaha mengambil hikmah masa lalu.

Observing mind beda lagi. Dia tenang. Thinking mind bahkan takut dengan ketenangan observing mind. Thinking mind ini sebenarnya hanya pembantu. Tapi seringkali jadi penguasaku. Observing mind yang mestinya lebih berkuasa, saking baiknya, dia sering memberi kuasanya ke thinking mind.

Thinking mind ini benar-benar tau observing mind bisa ambil kekuasaannya sewaktu-waktu. Jadi di saat aku sadar diri di sini-kini, dan observing mind mulai muncul kembali, maka thinking mind akan ketakutan, lalu pikiranku pun makin gaduh sekali.

Thinking mind sangat takut akan: ketenangan, penerimaan, cinta, rasa percaya. Thinking mind sangat takut akan segala sesuatu yang berhubungan dengan observing mind-kesadaran diri di sini-kini.

Gimana pun thinking mind itu pembantu. Dan yang lebih berkuasa itu observing mind. Saking observing mind ini sadar dirinya lebih berkuasa, maka dia tak ada ambisi buat jadi penguasa mengalahkan thinking mind.

Setiap kali aku sadar diri (observing mind) hidupku sebenarnya tak semengerikan yang kubayangkan, maka thinking mind akan bergegas protes memberontak. Thinking mind pinginnya aku selalu overthinking, cemas, gelisah, marah-marah, enggak pake perasaan & hati.

Dan sepertinya selama ini thinking mind berhasil membuat diriku jadi manusia yang kian jarang menggunakan rasa & hati. Membuat diriku jadi robot. Kemudian aku belajar, kunci dari melepaskan jeratan overthinking adalah dengan melatih observing mind, hanya menyadari pikiran.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

5

Ingin Punya Status Tertentu?

Sebatas yang aku tau, salah satu yang begitu ditakuti manusia itu kalau dirinya tidak dianggap ada. Dan sejak kecil aku diajari, biar aku dianggap ada dan semakin banyak orang yang menganggap aku ada, maka aku mesti punya status tertentu.

Hmmm yang dimaksud dengan status ini apa?

Bermacam-macam. Bisa berupa: status sarjana, S1 S2, profesi, sertifikasi, status udah menikah, punya anak, status sukses bekerja berbisnis, status menjabat posisi tertentu, status ekonomi sosial, status berdasar jumlah followers & subscribers, dan sebagainya.

Tapi kenyataan membuatku belajar… Begitu keras mengejar status tertentu, beriringan dengan selalu ingin lebih dari orang lain, ingin mengalahkannya, & jadi budak nafsu untuk berkuasa… justru membuat hatiku tak pernah nyaman. Inginku bahagia, yang kudapatkan malah derita.

Mengejar status tertentu & selalu ingin lebih dari orang lain juga tak akan ada habisnya. Misal di awal ingin lebih sukses dibanding anggota keluarga. Lalu dibanding tetangga sekomplek. Lalu dibanding sekantor. Lalu dibanding netizen… Seperti haus, minum air laut. Makin haus.

Aku jadi belajar, selalu ingin lebih dari orang lain malah membuatku gemar membandingkan & terobsesi mencari kesalahan orang lain. Ketika mengejar status tertentu & ternyata gagal kuraih, juga membuatku mudah terpeleset ke dalam perasaan membenci diriku sendiri.

Aku jadi belajar, hidup ini bukan soal mengejar status, tapi soal seberapa nyaman aku dengan diriku sendiri saat ini. Belajar untuk mengalir melakukan sepenuh hati apa yang bisa kulakukan sekarang ini. Melakukan hanya untuk melakukan. Bukan karena membandingkan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

9

Berusaha Selalu Mencintai Malah Menyiksa Diri

Sebatas yang kutau, perasaanku pada pasanganku harus selalu cinta. Tak boleh ada rasa jengkel, sebel, bosan, marah apalagi benci. Tapi anehnya, ketika aku berusaha mengunci rasa cinta, aku justru menderita. Kalau rasa cinta tenggelam tak lagi ada, kupikir aku mesti berpindah ke lain hati.

Aku jadi belajar, sifat alami perasaan itu selalu berubah. Sebelumnya aku keliru. Kupikir rasa cinta itu bisa kukunci, jadi bisa selalu ada selamanya. Ternyata semua di hidup ini berubah. Bunga yang kutanam di rumahku saja pun akan layu dan tak bisa hidup selamanya.

Yang hidup, suatu hari akan mati. Yang datang, suatu hari akan pergi. Semuanya terus-menerus berubah. Begitu pula perasaan cinta. Aku belajar untuk tak perlu terlalu khawatir akan hal itu. Karena ketika rasa cinta itu tenggelam tak ada lagi, hanya persoalan waktu, suatu hari rasa cinta itu pun akan muncul ada lagi.

Ke pasanganku, adakalanya aku merasa cinta. Di lain waktu ganti merasa sebel, jengkel, bosan, marah, dsb, lalu balik lagi merasa cinta. Lalu perasaanku berubah lagi. Terus begitu. Aku belajar untuk tidak clingy sama 1 rasa, termasuk tidak clingy sama rasa cinta.

Karena kalau aku clingy sama 1 perasaan, berarti aku terjebak macet di perasaan yang telah usang. Aku justru tidak bahagia. Karena ternyata, sifat alami perasaan itu selalu flux, bergejolak terus-menerus.

Aku jadi belajar, saat rasa cinta itu tak lagi ada, aku tak perlu tergesa pindah lain hati. Barangkali dengan aku belajar hanya terus menyadari-mengamati gejolak rasa cinta yang lenyap, berganti rasa sebel bosan dan rasa lainnya, lalu muncul lagi rasa cinta… aku akan menemukan rasa cinta yang sesungguhnya. Tanpa harus berganti pasangan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

9

Menyalahkan Diri Sendiri?

Seingatku, aku pernah melakukan kesalahan. Tak cuma satu, tapi banyak kesalahan. Kesalahan itu berupa perkataan, sikap, perbuatan dan keputusan. Apa kamu juga pernah melakukan kesalahan? Mungkin semua pernah melakukan kesalahan. Tapi tak semua mau merasa pernah melakukan kesalahan.

Selama ini aku terus bertanya-tanya: “Apa kesalahanku bisa dimaafkan?”. Aku juga dihantui berlebih rasa bersalah. Hingga tanpa kusadari, aku jadi mudah menyalahkan orang lain, suka bertengkar dan gemar marah-marah. Namun akhirnya aku jadi belajar, ternyata ketika berlebih menyalahkan diriku sendiri, justru yang kurasakan semakin menderita. Inginku berbenah diri, tapi nyatanya aku terkunci masa lalu. Sebaliknya, apa yang terjadi di masa lalu bisa jadi bekal untuk bertumbuh kalau aku mampu menggunakannya sebagai proses pembelajaran.

Aku belajar dari temanku. Dia pernah nyopir, mabuk, ngebut, kecelakaan dan berakibat anaknya meninggal. Dengan tidak membenarkan nyopir mabuk ngebutnya, setelah kejadian itu, ia gunakan perasaan bersalahnya sebagai janji untuk bersikap baik pada semua anak, terutama anak-anak yatim piatu.

Dia sadar, dengan mengolah perasaan bersalah menjadi sikap yang indah, dia tetap tak bisa terhindar sepenuhnya dari karma akibat perbuatan di masa lalunya. Tapi setidaknya, ia akan lebih mampu menerima akibatnya seikhlas mungkin.

Lagi, aku belajar dari temanku. Karena capek kerja, dia pernah mengambil sikap yang begitu tega menyakiti hati orang tercinta. Hingga hubungannya tak berlanjut lagi. Setelah sadar diri, rasa bersalahnya digunakan sebagai janji untuk membantu menguatkan hati orang-orang yang mengalami perpisahan.

Akhirnya aku belajar, di hidup ini semua mengalami proses bertumbuh. Ya meski tak jarang dalam proses itu ada momen terjatuh. Seperti sampah, kalau diolah berproses jadi pupuk untuk bunga yang indah. Kesalahan kalau diolah berproses jadi bekal untuk perjalanan yang berkah.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

7