Batin Terpenjara untuk Mencapai

Saya tidak sengaja membaca curhatan orang di social media kalau dia baru saja mengikuti sesi dengan komunitas healing-healing consciousness awakening gitu.

Kesan yang dia dapatkan adalah bahwa sebelum mengikuti sesi itu, selama ini dia stres, insecure, cemas, batin dia terluka itu kan karena terus-terusan berada di kondisi batin mesti mencapai sesuatu. Kesuksesan, status, posisi, kondisi, materi, dan sebagainya. Becoming. Dari ini ke itu.

Dan terus-terusan berada di kondisi batin berpikir dalam segi untung dan rugi. Untungnya buat aku apa, ruginya buat aku apa.

Lha kok ternyata di sesi healing itu juga begitu. Dia pun mesti mencapai sesuatu. Semacam tingkatan, level 1, 2, dan semacamnya. Bedanya hanya ini terkait kesadaran atau dimensi realitas. Tapi tetap saja berada di kondisi batin mesti mencapai sesuatu.

Dan juga masih berpikir dalam segi untung dan rugi. Kalau mencapai level yang lebih tinggi dianggap sebagai keuntungan buat dirinya. Kalau enggak naik tingkat, apalagi menurun dianggap kerugian.

Kalau merasa udah mencapai level yang dirasa tinggi, maka memamerkannya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan nilai ujian yang bagus.

Dan menganggap diri lebih hebat dibandingkan orang di level lebih rendah. “Orang-orang ini enggak selevel sama aku.”

Enggak lama setelah saya membacanya, iseng seorang teman saya mention saya & bertanya ke saya, gimana tanggapan saya mengenai hal itu.

Yang ingin saya tanggapi sebenarnya poinnya ringkas.

Manusia, kita, batinnya terpenjara untuk mencapai. Terpenjara berpikir sesempit hanya dalam segi untung dan rugi.

Kita sejak kecil dilatih untuk begitu. Bahkan ketika dewasa, kita jadi kecanduan untuk mencapai, untuk berpikir dalam segi untung dan rugi. Itu jadi “narkoba” kita. Kalau enggak begitu, kita kebingungan. Kita menginginkan lagi, lagi dan lagi. Kita merasa hidup ya harus begitu.

Bahkan di ranah healing maupun spiritual pun kondisi batin kita masih aja begitu. Mencapai, meraih, mengejar satu kondisi yang bukan kondisi seapaadanya saat ini.

Kita terpenjara terus dalam kondisi batin begitu, terjebak kondisi batin “becoming”, dari ini menjadi itu, karena itu membuat kita nyaman, karena memberikan sense of purpose, sense of meaning, kepastian dan kejelasan dalam hidup yang pada hakekatnya hidup ini enggak pasti, enggak bisa benar-benar kita ketahui hidup ini gimana, hidup ini “unknowable”.

Karena batin kita terpenjara begitu maka kita selalu enggak pernah nyaman, batin kita konstan ajeg berkonflik antara kondisi saat ini dengan kondisi yang ingin kita capai.

Wajar sih kalau kita masih ingin mencapai sesuatu. Saya juga masih suka gitu kok. Tapi kalau kondisi batin kita terus begitu, bahkan dalam perjalanan pulih… ya remuk.

Kurang istirahat, energi terkuras abis. Terus berkonflik, terus berkelahi dengan diri sendiri.