Uang, Uang dan Uang

Di pikiran isinya cuma uang, harta, uang, harta, bikin hidup tidak tenang & menderita. Tapi merasa bisa bahagia tanpa uang, bisa jadi itu sebuah ego kesombongan. Jadi ingat 8 insight yang saya dapatkan dari baca buku Psychology of Money, karya Morgan Housel.

1. Hubungan manusia dengan uang seringkali yang diributin adalah soal:
– banyak atau tidaknya uang yang dipunya
– pintar atau tidaknya mengelola uang

Di buku ini, saya belajar hal lain yang penting, yaitu soal perilaku kita terkait uang yang kita punya. Urusan uang itu urusan psikologis.

2. Selama ini mungkin kita cuma diajari mencari uang, mengelola uang & uang itu soal laporan, data, logika

Kenyataannya, banyak perilaku orang lebih dipengaruhi emosinya kalau urusan uang. Keputusan & komentar terkait uang melibatkan perasaan marah, sedih, serakah, benci, dsb.

3. Pentingnya merasa cukup

Kita cenderung selalu merasa kurang. Karena gemar membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi zaman sekarang, mudah tau hidup orang lain. Bahkan sampe ngorbanin reputasi, kesehatan, keluarga, teman. Padahal di atas langit ada langit. Jadinya malah ora uwis-uwis. Enggak berkesudahan.

4. Enggak perlu berlebih pamer kekayaan. Apalagi kalau kita enggak kaya

Kita pingin kaya, tanpa sadar karena biar bisa pamer kekayaan. Hidup mewah. Lebih dari orang-orang. Yang sebenarnya kaya malah punya banyak uang, disimpan & hidupnya biasa aja. Yang “kaya” pamer, bisa jadi banyak uang, banyak utang.

5. Kaya tampak luar & kaya di dalam batin

Biar bisa kaya tampak luar, perlu berlebihan optimis, gas pol berani ambil resiko, pamer kekayaan untuk menggaet relasi sesama orang kaya. Berlatih kaya di dalam batin sebaliknya. Perlu berlatih hidup sederhana & sadar diri untuk secukupnya.

6. Pelan-pelan saja

Kita pingin sekali segera jadi orang kaya. Mudah tergiur cara-cara cepat dapat uang. Sifat gragas serakah agresif ini malah bisa bikin kita mbundet ruwet sakarepe dewe. Bingung sendiri. Sadari selalu ada ruang yang tak bisa kita pastikan. Tetap ingat filosofi alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan asal selamat.

7. Lebih pintar enggak selalu lebih kaya

Kita pikir, yang lebih pintar pasti akhirnya lebih kaya. Tapi ternyata, yang lebih pintar, uang banyak, gaya hidup jor-jor an, pada akhirnya menderita karena uang. Dibanding yang kalah pintar, uang secukupnya, gaya hidup sederhana, malah lebih bahagia.

8. Gaya hidup, kondisi psikologis & masa lalu seseorang

Gaya hidup, komentar & keputusan kita terkait uang dipengaruhi kondisi psikologis. Dan kondisi psikologis dipengaruhi pengalaman masa lalu. Juga terkait luka batin kita. Serta kita masuk boomer, gen X, Y atau Z juga akan mempengaruhi hubungan kita dengan uang.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

24

Sadarkah Kita Soal “Toxic Success”?

“Toxic relationship”, kita udah tau. Kalau “Toxic Success”? Sadarkah kita bahwa mengejar sukses & jadi orang sukses itu beresiko terpeleset di kondisi yang enggak baik buat kesehatan mental kita?

Insight 1. Saya tau istilah “Toxic Success” dari judul buku berjudul “Toxic Success”. Penulisnya Paul Pearsall, PhD meneliti 100 orang sukses, jabatannya tinggi, punya banyak uang, di berbagai bidang. Selama 10 tahun. Hasilnya? 90% mengalami yang disebut Toxic Success.

Insight 2. Toxic success enggak cuma dialami oleh orang-orang yang udah sukses, jabatan kerja udah tinggi, udah punya banyak uang lho. Tapi juga bisa dialami oleh orang-orang yang sedang dalam proses meraih sukses, punya jabatan tinggi, berusaha mendapatkan uang lebih banyak.

Insight 3. Dari penelitian, 90% orang sukses mengalami toxic success dengan kondisi:

  • sering cemas, sulit tenang
  • sulit mengelola perhatian
  • selalu ingin lebih, enggak mampu merasa cukup
  • jarang fully present, enggak sepenuhnya hadir di saat ini
  • enggak ada kedekatan relasi dengan org lain

Insight 4. Yang 10% mengalami yang disebut sweet success dengan kondisi sebaliknya:

  • jarang cemas, lebih tenang
  • mampu mengelola perhatian
  • berani merasa cukup
  • bisa lebih hadir sepenuhnya di saat ini, fully present
  • punya kedekatan relasi dengan org lain, terutama keluarga

Insight 5. Toxic success cenderung mengukur kesuksesan dari yang tampak. Rumah megah, mobil mewah, pakaian mahal, pujian tepuk tangan. Sweet success lebih memperhatikan soal batin yang tenang, hati yang damai, mental yang sehat.

Insight 6. Toxic success landasannya lebih ke berjuang tanpa lelah ngejar sukses. Meraih lebih banyak lagi, menggapai lebih tinggi lagi. Sweet success landasannya lebih ke penerimaan keadaan seapaadanya. Ada keberanian untuk merasa udah cukup.

Insight 7. Banyak orang pingin sukses, tapi yang mengejar sukses & bahkan yang udah sukses, enggak semuanya merasakan damai. Diri kita, baik tubuh, pikiran & perasaan, sebenarnya memberi kode ketika hidup kita udah mengarah ke kondisi yang enggak damai. Sayangnya kita sering mengabaikan kode itu.

Kodenya bisa berupa seperti kondisi 90% orang yang mengalami toxic success, yang udah tertulis di insight 3. Kode lebih mendalam bisa berupa kondisi atau sakit fisik.

Jadi sebelum mengejar sukses atau sudah di dalam proses mengejar sukses, kita perlu rajin berlatih peka terhadap kode ini. Membaca diri sendiri. Sadar diri.

Kalau sudah menyadari kodenya, kembali ke diri kita masing-masing. Mau terus ngegas atau ngerem. Apapun pilihan kita, yang lebih penting kita mau menerima apapun akibat dari pilihan kita. Karena yang sering terjadi, setelah menerima akibatnya, barulah kita kebingungan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

20

Terus Berusaha Mengubah Hingga Kelelahan

Kita kelelahan karena kita kira satu-satunya cara memulihkan batin adalah dengan mengubahnya. Terjerat di pola pikir: Ketika pikiran negatif muncul, kita harus mengubahnya menjadi pikiran positif. Ketika perasaan negatif datang, kita wajib mengubahnya menjadi perasaan posiitif.

Di saat kita berusaha mengubahnya, ternyata pikiran dan perasaan semacam mempertahankan kedudukannya. Enggan diubah. Terjadilah adu kekuatan. Bahkan pikiran dan perasaan negatif malah makin menjadi-jadi, terasa kian bertambah banyak. Atau disebut dengan istilah “Rebound effects”

Jadilah hidup seperti “Aku vs pikiran & perasaanku: Ketika pikiran & perasaan kurasa nyaman, aku harus mempertahankannya. Ketika pikiran & perasaan kurasa enggak nyaman, aku harus mengubahnya.”

Sekalipun kita hanya mau yang bikin nyaman, dan enggan yang bikin tidak nyaman, kenyataan hidup akan selalu tersaji dari nyaman dan tidak nyaman.

Kadang kita perlu diingatkan bahwa baik yang nyaman maupun tidak nyaman itu hanya sementara. Sekuat apapun usaha kita, tidak akan ada yang bisa selamanya. Hidup ini menjadi hidup karena sifat alami ketidakkekalannya.

Tidak salah berusaha mengubah pikiran & perasaan, tapi ingat juga untuk menerimanya. Mengendurkan ketegangan antara diri dengan pikiran & perasaan.

Dan kalau kita mau merenung sejenak saja, yang bikin kita menderita bukanlah kenyataan yang terjadi, bukanlah pikiran dan perasaan kita sendiri. Tapi yang bikin kita menderita adalah ketegangan batin akibat kita ingin mempertahankan yang nyaman dan mengubah yang tidak nyaman.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

24

Sering Menghakimi dan Tidak Disadari

Pengalaman kita dihakimi (kita di posisi korban penghakiman), lebih sering kita ingat daripada pengalaman kita menghakimi (kita di posisi pelaku). Untuk menyadari bahwa kita menghakimi, biasanya perlu upaya lebih.

Menghakimi adalah sesuatu yang sering kita lakukan, dan seringkali tidak kita sadari. Dalam sekejap, misal kita membentuk asumsi tentang seseorang yang baru saja kita temui untuk pertama kali. Kita hanya butuh waktu sebentar untuk menganggap orang yang kita lihat fotonya di linimasa media sosial sebagai orang sukses. Atau untuk memberi label suatu perasaan yang sedang kita alami sebagai perasaan negatif.

Apakah kenyataan yang terjadi sebenarnya sama dengan penghakiman kita?

Kita pikir penghakiman kita itu sepenuhnya benar. Barangkali tanpa kita sadari, adakalanya kita terjebak merasa paling benar.

Kita terlalu sombong menganggap penghakiman kita itu menggambarkan kenyataan seutuhnya. Padahal penghakiman itu seperti kita memakai kacamata berwarna. Kita jadi melihat kenyataan melalui kacamata penghakiman. Penghakiman berakar dari berbagai hal yang kita percaya padahal belum tentu benar.

Ketika kita menghakimi, seringkali lebih menggambarkan diri kita yang menghakimi dibandingkan menggambarkan orang yang kita hakimi. Setepat apapun kelihatannya penghakiman kita, penghakiman tetap saja merupakan cerminan dari berbagai hal yang kita percaya, yang kita genggam di dalam diri kita.

Dengan memahami ini, kita akan lebih menyadari akan penghakiman. Bukan hanya ketika kita dihakimi, tapi juga ketika kita menghakimi.

Karena kita punya standar tertentu yang kita percaya di dalam diri kita, sehingga kita menghakimi orang lain begini dan begitu. Dan seringkali standar itu pula yang kita gunakan untuk menghakimi diri kita sendiri.

“Kacamata penghakiman yang kita gunakan untuk menghakimi dunia di luar diri kita, seringkali juga kita gunakan untuk menghakimi diri kita sendiri.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13

Istirahat dari Bertengkar dengan Pikiran & Perasaan Sendiri

Ketika pikiran & perasaan yang muncul bikin tidak nyaman, atau kita beri label negatif, kita tidak perlu berusaha melawannya, mengubahnya atau mengusirnya. Hanya sadari. Inilah latihan istirahat.

Begitu pula sebaliknya. Ketika pikiran & perasaan yang muncul bikin nyaman, atau kita beri label positif, kita tidak perlu berusaha mempertahankannya atau menggenggamnya. Hanya sadari. Inilah latihan istirahat.

Istirahat di sini bukan pula upaya untuk menenangkan diri. Beristirahatlah pula dari upaya semacam itu. Dari reaksi berlebihan untuk melawan & mempertahankan.

Istirahat di sini hanya menyadari bahwa pikiran & perasaan layaknya awan2 di langit. Silih berganti, muncul lenyap.

Menyadari bahwa ada bagian yang kita sadari yaitu pikiran & perasaan.

Dan menyadari ada bagian yang menyadari pikiran & perasaan. Bagian ini enggak terseret hanyut oleh segala bentuk pikiran & perasaan. Seriuh apapun pikiran & perasaan, bagian ini selalu tenang. Hening.

Barangkali dgn menyadari ini, ada rasa tenang yang enggak memusuhi keramaian. Rasa tenang yang enggak menyalahkan lingkungan yang bikin diri enggak bisa istirahat.

Ada pula bahagia yang enggak melawan sedih. Ada cinta yang bukan lawan dari benci. Tapi cinta yang memeluk 2 sisi berlawanan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

16

Terganggun dengan Pikiran dan Perasaan Kita Sendiri?

Kita, manusia ini dianugerahi kemampuan untuk melakukan sesuatu di luar kesadaran. Misal menyetir mobil.

Pengendara berpengalaman yang menyetir sudah berulang kali, biasanya mengganti gigi, menggerakkan kaki, dan mengendalikan setir secara otomatis. Tidak benar- benar disadari.

Ini juga terjadi, misal saat berkendara naik motor, bermain alat musik, dan lain sebagainya.

Namun perilaku ini tidak terbatas pada perilaku yang terlihat, seperti mengendarai mobil atau bermain alat musik. Pola batin, misal terkait kesedihan dan kegembiraan, juga bisa terjadi secara otomatis.

Meski kadang sangat berguna, sifat otomatis ini juga bisa menimbulkan masalah serius.

Misal: Setiap kali merasa sedih, reaksi kita secara otomatis adalah makan berlebihan. Kalau dalam jangka waktu tertentu, bisa berdampak tidak baik untuk kesehatan kita. Atau sebaliknya, setiap kali merasa gembira, reaksi kita di luar kesadaran adalah terlalu ikut campur urusan orang lain. Sehingga beresiko menyakiti hati. Tindakan yang terlalu terpengaruh perasaan inilah yang sepertinya dikenal dengan istilah “baper”.

Kita tau bahwa di suatu situasi, pikiran dan perasaan kita muncul begitu cepat dan membentuk semacam siklus. Misal kita menerima kabar yang membuat patah hati (situasi). Kabar ini kemudian secara otomatis memunculkan perasaan sedih atau frustrasi terlebih dahulu (perasaan). Lalu secara otomatis pula perasaan itu mengajak pikiran ikut meramaikan. Kalau kita terjerat dalam siklus pikiran dan perasaan dalam jangka waktu yang lama, barangkali inilah yang disebut dengan “gagal move on”.

Akhirnya kita pun tersadar dan bertanya: “Apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menyikapi siklus otomatis pikiran dan perasaan ini? Apa saya harus melawannya atau mempertahankannya? Apa saya harus larut di dalamnya atau mengalihkan diri darinya?”

Sadari saja siklus pikiran dan perasaan yang muncul. Jadi kita seperti punya jangkar agar tidak terseret hanyut di dalam siklus itu. Kita membentuk semacam ruang kesadaran diri.

Agar kita pun sadar bahwa pikiran dan perasaan itu punya tariannya sendiri. Bukan mengendalikan pikiran & perasaan agar tidak mengganggu kita, tapi sebaliknya kita perlu berlatih mengurangi menganggu pikiran & perasaan.

Dengan menjadi pengamat yang netral, kita bisa keluar dari siklus otomatis itu. Sehingga reaksi kita tidak terlalu terbawa pikiran dan perasaan. Sederhananya, kita jadi enggak gampang baper.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8

Sudah Tau Banyak Ilmu, Tapi Hidup kok Enggak Kunjung Membaik?

Ketika seseorang ngobrol sama temannya tentang gimana caranya masak:

“Aku udah tau kumpulan resep yang enak, aku juga udah tau gimana caranya masak. Kira-kira masakanku bakal enak gak ya?”

Tanya temennya, “Kamu pernah nyoba masak?”

Jawabnya, “Belum pernah.”

Setelah obrolan itu, dia pun belajar bahwa sebanyak apapun yang dia tau soal resep & masak, kalau cuma tau, gak dilatih gak dilakukan gak dirasakan, ya enggak akan tau masakannya enak atau gak.

Kadang, tentang belajar ilmu, kita hanya ada di “dimensi tau”, tidak berlanjut ke dimensi melakukan yang kita tau (dimensi laku).

Sehingga memang tidak bisa dipungkiri, kita tidak merasakan manfaat mendalam dari ilmu itu (dimensi rasa). Bahkan malah bisa terjebak dalam kebingungan.

Kadang juga, kita mendapat ilmu dari seseorang, misal soal memaafkan, mengikhlaskan, dsb, lalu kita meremehkannya, “Itu sih aku udah tau” atau “Klise. Banyak orang udah tau.”

Padahal bisa jadi kita emang udah tau, tapi belum jadi laku, belum jadi rasa.

Ada ilmu-ilmu memulihkan & merawat batin yang memang perlu kita pelajari berulang kali. Bukan untuk kita remehkan.

Tapi agar kita bergerak dari “dimensi tau” ke “dimensi laku & rasa”.

Ketika berada di “dimensi tau”, kita cenderung memegang erat apa yang kita ketahui. Yang berbeda dengan kita pasti salah. Akibatnya berdebat.

Tapi ketika udah di “dimensi laku & rasa”, kita perlahan melepaskan genggaman merasa tau itu. Yang berbeda dengan kita belum tentu salah. Akibatnya cenderung menghindari debat.

Teringat filosofi Jawa: “Ngelmu iku kelakone kanthi laku”.

Kurang lebih artinya: Kita tidak bisa mengusai ilmu itu seutuhnya, tidak bisa merasakan manfaat mendalamnya, kalau kita tidak melakukan ilmu itu.

Seenak apapun resep masakan yang kita tau, kalau cuma tau, tentu saja kita enggak bisa merasakan enaknya kan?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

7

Kapan Lulus Kuliah? Kapan Nikah? Belum Punya Anak?

Di momen seperti itu, berarti ada 2 pihak. Yang bertanya & yang ditanya. Dalam hal ini, yang ditanya adalah kita. Tapi tak menutup kemungkinan lho, di lain kesempatan kita juga bisa jadi yang bertanya.

Bayangkan, seringkali yang bertanya itu bertanya dari posisi dia & enggan memahami posisi kita yang ditanya. Kita pun yang ditanya, berusaha menjawab dari posisi kita & enggan memahami posisi yang bertanya. Akibatnya? Kondisi yang berjauhan. Terjadi ketegangan interaksi.

Posisi penanya & yang ditanya ini beda. Sama-sama enggan memahami kondisi. Jadi pertanyaan & jawaban enggak bakal bisa nyambung. Kenapa? Karena beda dimensi. Jadi bukan soal pertanyaannya salah atau jawabannya salah. Tapi pertanyaan & jawabannya enggak berada di dimensi yang sama. Enggak sinkron.

Penanya enggak akan bertanya kalau dia memahami kondisi yang ditanya. Kalau dia melampaui dimensi jawaban atas pertanyaan yang belum ditanyakan. Kita pun enggak terganggu lagi dengan pertanyaan itu kalau kita memahami kondisi penanya. Kalau kita melampaui dimensi pertanyaan itu sendiri.

Ingat, sebelum tergesa bertanya, cobalah bertanya ke diri sendiri, “Kondisi dia sebenarnya seperti apa? Dia udah berjuang keras untuk mendapatkannya ya?” Pertanyaan-pertanyaan ke diri sendiri yang ditujukan untuk meremukkan pertanyaan yang bakal diucapkan. Tentu saja tak perlu lagi jawaban, lha wong pertanyaannya aja udah remuk kok.

Begitu pula kita yang ditanya. Sebelum tergesa merasa terganggu, cobalah menyadari, “Aku terganggu karena pertanyaannya, atau sebenarnya aku terganggu lebih karena pikiran-pikiranku sendiri?” Respon begini bukan buat jawab pertanyaan dari penanya, tapi buat meremukkan dimensi pertanyaannya. Tentu saja tak perlu terganggu dengan pertanyaan seperti itu, karena menyadari akar terganggu kita adalah pikiran kita sendiri.

Dan kalau penanya dan kita yang ditanya saling berlatih meremukkan dimensi pertanyaan & jawaban masing-masing… Penanya & kita bisa merasakan dimensi relasi yang sama sekali beda, sama-sama menyelami relasi yang lebih dalam. Berbeda dengan dimensi relasi di mana kita ributkan selama ini.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

7

Kata dan Kenyataan

Misal seseorang belum pernah makan pisang. Kita yang pernah makan pisang diminta menjelaskan rasa pisang kepadanya.

Berbagai kata kita gunakan untuk menjelaskan rasa pisang. Tapi, apakah segala kata yang kita gunakan untuk menjelaskan rasa pisang, sedetail apapun itu, bisa benar-benar menjelaskan kenyataan rasa pisang?

Ternyata tidak bisa. Dan tidak akan bisa. Kata-kata selalu punya keterbatasan untuk menjelaskan kenyataan. Nah itu saja baru menjelaskan rasa pisang yang pernah kita makan lho.

Apalagi menjelaskan cinta. Apalagi menjelaskan cinta yang belum pernah kita alami. Apalagi menjelaskan sang maha cinta, Tuhan. Apalagi menjelaskan Tuhan yang belum pernah kita temui & alami. Kata-kata tidak akan bisa menjelaskan yang tidak kita ketahui dan tidak akan bisa kita ketahui.

Kata-kata akan selalu terbentur keterbatasan untuk menjelaskan cinta dan Tuhan.

Setiap kata, setiap penjelasan kita tentang cinta dan Tuhan, ada kemungkinan tak sesuai dengan kenyataannya. Jadi ya kalau sudah urusan cinta dan Tuhan, tak perlulah kita merasa paling tau dan merasa paling benar. Kalau bisa mengelaklah dari perdebatan soal ini. Mending kita makan pisang aja. Lha wong ya kita sama-sama terbatasnya kok menjangkau sepenuhnya kenyataan cinta dan Tuhan.

Balik ke pisang. Terus bagaimana cara menjelaskan rasa pisang kepada orang yang belum pernah makan pisang? Ya minta aja dia makan pisang. Beres.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

15

Mengapa Sebagian Orang Lebih Percaya Hal yang Tak Masuk Akal?

Mengapa sebagian orang lebih percaya soal pesugihan, babi ngepet dan sebagainya, daripada mikir adanya kemungkinan perkembangan teknologi & “gig economy”, di rumah aja bisa tetap berkarya kaya, online bisa ketemu pembeli, menjual karyanya, adsense, dan sebagainya?

Salah satunya karena: Saat mengalami satu peristiwa & ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskan peristiwa itu, maka kita akan cenderung milih percaya pada kemungkinan yang menurut kita paling simple.

Jadi kita pikir, yang kita rasa lebih simple lah yang benar. Benar atau tidaknya sesuatu hanya dipertimbangkan berdasar seberapa simple penjelasan akan sesuatu itu. Kenapa? Ya mungkin daripada kita benar-benar mikir kan? Mending males mikir kan? 🙂

Contoh lain… Tiba-tiba buku di rak jatuh sendiri, atau malam-malam denger alunan musik… pikiran kita cenderung langsung beranggapan apa? Iya, itu setan. Daripada kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih kompleks, yang membuat itu terjadi. Misal: Buku jatuh, karena gravitasi. Musik, karena tetangga dengerin musik.

Kita juga cenderung percaya akan sesuatu kalau itu memberikan harapan. Walaupun itu sebenarnya itu belum tentu masuk akal. Di kondisi tertentu, kita perlu pola pikir seperti ini. Kenapa? Ya buat hemat tenaga. Kalau semuanya dipikir detail, overthinking, ya capek. Pola pikir ini cocok di kondisi-kondisi yang membutuhkan kita untuk segera bertindak.

Tapi di kondisi lainnya, kita perlu menyadari jebakan pola pikir ini. Kenapa? Karena ada waktunya, kita perlu berpikir matang, perlahan memikirkan sesuatu. Ya karena yang kita pikir simple itu pasti benar, belum tentu benar.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8