Mencintai atau Menguasai?

Ini bukan hanya tentang cinta antar pasangan, tapi juga orang tua-anak. Setauku, sejak dulu aku punya pola pikir tentang cinta yang mungkin mirip dengan pola pikir kebanyakan orang. Kalau cinta, harus ngomong semuanya. Harus tak ada privasi. Kalau udah makin turut campur urusan personal, makin terikat, makin tak ada lagi ruang sebagai individu, maka itulah cinta. Tapi apakah yang begitu beneran cinta?

Dari banyak novel, lagu, film, yang aku tau orang yang saling mencintai itu mesti berusaha untuk tak ada lagi privasi. Namun, kenyataannya beneran cinta itu tidak demikian. Itu hanyalah emotional attachment. Itu hanyalah rasa takutku akan sisi individu dari orang yang kucintai. Aku kira mencintai, tapi tanpa sadar yang aku lakukan sebenarnya adalah menguasai.

Aku kira mencintai, tapi tanpa sadar yang aku lakukan itu berusaha menghancurkan sisi individu orang yang kucintai. Kalau orang yang kucintai juga begitu, berarti dalam hubungan cinta yang mestinya saling memberi ruang untuk bertumbuh menemui diri sejati, malah saling menghancurkan sisi individu & saling menyakiti.

Jadi aku menyimpulkan, yang selama ini aku lakukan atas dasar aku mencintai itu bisa jadi bukanlah sebenar-benarnya mencintai. Tapi ternyata hanya keinginanku untuk menguasai. Dengan berharap bisa bahagia, namun kenyataannya malah makin menderita. Sebenar-benarnya mencintai itu bertumbuh seiring menghargai privasi. Tak menghancurkan dirinya sebagai individu yang punya kemerdekaan sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6

Hidup Harus Punya Tujuan?

Seingatku, pola asuh orang tuaku di rumah, guruku di sekolah, lingkungan sejak aku kecil, semacam memprogram diriku untuk harus punya tujuan. Lalu dilatih untuk berusaha keras mencapai tujuan & menemukan passion. Hidup dipahami sebatas seperti travelling. Maksudnya gimana?

Ada titik berangkat & titik tujuan. Di antaranya ada petunjuk arah yang jelas. Pola pikir ini kusebut sebagai pola pikir “mencapai tujuan”. Apa yang kualami selalu kubandingkan dengan tujuan yang aku punya. Hanya bahagia setelah mencapai tujuan. Contohnya gimana?

Kalau tujuanku punya uang dalam jumlah tertentu, maka hanya bahagia kalau udah punya uang segitu. Kalau tujuanku punya jabatan tertentu, maka hanya bahagia kalau udah berada di posisi itu. Kalau tujuanku punya pasangan, maka hanya bahagia kalau udah menikah.

Karena di hidup ini titik berangkat-titik tujuan serta petunjuk-petunjuk arahnya enggak sejelas saat travelling… Pola pikir yang terprogram sejak kecil: Harus punya tujuan & mencapai tujuan ini, membuatku mudah overthinking. Mbundet ruwet sakarepe dewe dan menyalahkan diri sendiri. Bahkan udah mencapai tujuan pun tetap aja aku enggak bahagia.

Seiring berjalannya waktu, aku sadar ternyata aku juga perlu bebas dari jadi budak pola pikirku sendiri yang udah terprogram sekian lama. Dengan melatih pola pikir “menyadari perjalanan”. Mengendurkan jeratan tujuan. Bahkan ada kalanya enggak punya tujuan. Hanya menyadari keindahan tiap momen.

Seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Tidak terlalu sibuk menilai benar-salahnya dibandingkan dengan tujuan yang dipunya. Ia bahkan barangkali tidak punya tujuan dari berjalan. Berjalan hanya untuk berjalan saja. Sadar penuh hadir utuh dalam keindahan berjalan.

Akhirnya aku sadar, aku perlu mengurangi jeratan tujuan. Bukan semata menemukan passion, tapi juga berlatih compassion. Tercapai atau tidaknya tujuanku, atau tercapai dalam bentuk yang berbeda dari ekspektasiku, bukanlah sepenuhnya kuasaku. Aku hanya melakukan yang perlu dilakukan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10

Doa yang Tidak Terkabul

Seingatku, sejak kecil aku diajari kalau ingin sesuatu, mintalah kepada Tuhan lewat doa. Bahkan ketika aku ingin permen & ndilalah baru enggak boleh makan permen, aku pun diminta berdoa minta permen kepada Tuhan. Apapun permintaan di dalam doaku: Ketika doaku terkabul, aku gembira. Ketika doaku enggak terkabul, aku sedih.

Seiring berjalannya waktu, pemahamanku tentang doa berubah. Salah satunya karena cerita pendek berikut ini:

Tanya murid pada gurunya, “Kenapa guru begitu bahagia padahal doamu tidak terkabul?”

Jawab gurunya, “Kalau doaku terkabul, aku bahagia. Tapi itu mungkin aja keinginanku. Kalau doaku tidak terkabul, aku lebih bahagia. Karena itu pasti kehendakNya.”

Aku jadi sadar selama ini ternyata isi doaku penuh dengan aku minta ini dan itu kepada Tuhan, atau bahkan aku mengatur-atur dan menyuruh-nyuruh Tuhan agar mengabulkan keinginanku. Isi doaku penuh dengan keinginanku, penuh dengan ego, penuh dengan “aku”. Padahal barangkali sebenar-benarnya berdoa itu ketika tak ada lagi “aku”.

Semakin orang sadar diri, bisa jadi isi doanya:

“Ya Tuhan, jangan kabulkan keinginanku. Kabulkan saja dan jadilah kehendak-Mu.” Dan juga mungkin puncak doanya adalah: “Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.” Saat ini, sepertinya aku masih jauh dari sadar diri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14

Pertanyaan yang Tidak Perlu Dicari Jawabannya

Waktu kecil, banyak hal yang bikin aku bertanya. Beberapa di antaranya: Kok bisa ada pelangi? Kalau makan biji jeruk, apa di kepala bakal tumbuh pohon jeruk?

Pikiran penuh tanya, haus jawaban. Orang di sekitar ada yang risih. Tapi sebagian memberi label itu tanda anak pintar.

Tambah usia, karena belajar, aku jadi pintar menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan itu. Namun tambah usia juga tambah tanya di kepala: Kapan nikah? Kok belum punya anak? Kenapa patah hati lagi? Apa dosaku kok aku mengalami ini? Dan masih banyak lagi tanya serupa.

Ternyata hal ini berbeda dengan semasa aku kecil…

Aku jadi tau, adakalanya pikiran perlu penuh tanya & haus jawaban. Tapi adakalanya juga pikiran punya batas untuk menjangkau samudera hidup yang sangat luas. Untuk itu, aku perlu belajar sadari aja ketika tanya itu muncul di kepala, lalu tak perlu berusaha mencari jawabannya.

Lebih mendalam lagi, belajar kurangi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tanpa sadar membuatku merasa pintar & bergaya jadi orang yang berpikir kritis. Padahal bisa jadi pertanyaan itu hanya akan menambah rumit hidup yang udah rumit & akan melukai diri sendiri.

Ketika pikiranku penuh tanya & haus jawaban, aku jadi selalu gelisah.

Ketika aku mampu nyaman walau tak tau jawaban, aku berada dalam keadaan damai & bahagia. Enggak serakah mendapatkan yang kuinginkan. Enggak membenci menendang yang tak kuinginkan.

Kalau pikiranku masih penuh tanya & haus jawaban, menjawab pertanyaan dengan keheningan itu sangatlah tak masuk di akal.

Tapi di saat belajar meditasi, aku mulai belajar, bukan biar jadi pintar menemukan jawaban seperti semasa aku kecil. Tapi agar tetap nyaman walau tak tau jawaban.

Kalau aku masih merasa risih dengan pertanyaan serupa dari orang lain, artinya aku masih belum nyaman dengan pertanyaan dari pikiranku sendiri.

Semakin aku nyaman dengan tanya di kepala sendiri, semakin aku tidak risih dengan tanya dari orang lain.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8

Cara Berdamai dengan Cemas, Takut, dan Khawatir

Seringkali rasa cemas saya itu lebih berhubungan dengan masa depan. Tentang apa saja yang mungkin terjadi, apa saja yang belum pasti, dan apa saja yang tidak bisa benar-benar diketahui.

Kenyataannya, masa depan itu sekarang ini tidak ada. Masa depan itu saat ini, di sini-kini, belum terjadi. Masa depan yang membuat saya cemas itu hanya berupa bayangan-bayangan di pikiran saya sendiri. Berupa imajinasi-imajinasi yang seolah tiada henti.

Pikiran memang salah satu tugasnya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Begitu banyak skenario dan hipotesa yang diajukan. Saya sampai sekarang masih belajar untuk tidak terlalu percaya begitu saja kepada pikiran saya sendiri.

Kalau kesadaran diri saya cukup kuat… Ketika saya berlebihan merasa cemas, saya sadar berarti saya terlalu terseret oleh imajinasi-imajinasi pikiran saya sendiri. Kalau tidak terseret, maka saya bisa sepenuhnya berada di sini-kini, bisa tetap tenang, nyaman, tentram nan damai.

Agar tidak mudah terseret, saya belajar menjangkarkan diri berada di momen saat ini, di sini-kini. Berlatih menyadari tarikan dan embusan napas. Napas sebagai jangkar momen di sini-kini. Berlatih pula menyadari pikiran hanyalah pikiran. Tidak terlalu percaya pikiran sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

7

Belajar Malas: Sebuah Kekuatan untuk Sehat Mental

Yang saya tahu, ada yang terlalu rajin bekerja hingga tak punya waktu untuk bermalas-malasan. Tapi ada juga yang sebaliknya: terlalu bermalas-malasan hingga begitu sedikit waktu untuk rajin bekerja.

Namun ketika saya sedang bermalas-malasan, saya menyadari bahwa ternyata saya tidak benar-benar bermalas-malasan. Saya masih saja sibuk mengerjakan banyak hal. Mungkin tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja saya sibuk mengerjakan. Dan juga saya masih saja sibuk terhanyut oleh memori dan imajinasi pikiran sendiri.

Sejak kecil, saya diajari bahwa malas itu buruk. Saya dilarang keras malas. Tapi ternyata akhirnya saya menyadari bahwa malas tak sepenuhnya buruk.

Malas bisa jadi tanda bahwa tubuh dan pikiran saya butuh istirahat. Kalau saya abaikan dan terus sibuk bekerja, bisa-bisa yang jadi korban adalah kesehatan mental dan juga raga.

Malas bisa jadi sumber kreativitas. Saya jadi mencari cara yang hemat tenaga tapi tetap bisa produktif kerja. Saya menggunakan malas saya untuk mencari cara yang lebih baik untuk mengerjakan sesuatu.

Malas juga membuat saya enggan terlalu ikut campur hidup orang lain. Dan tentu saja juga jadi malas bertengkar. Kalau ada yang ngajak ribut, saya pun malas menerima ajakannya. Orang malas enggak suka keributan. Kemalasan bersahabat dengan perdamaian.

Akhirnya saya sadar, ada waktunya rajin bekerja. Ada waktunya pula bermalas-malasan. Belajar malas dengan penuh totalitas ternyata tak semudah yang saya bayangkan.

Ketika saya secara berkala bisa meluangkan waktu untuk benar-benar bermalas-malasan, mental saya juga bisa terawat sehat.

Sudahkah kamu belajar malas hari ini?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8

Meragukan Cinta

Suka ngetes pasangan, dia beneran cinta enggak ya? Kamu suka gitu? Apa pasanganmu yang suka gitu? Suka meragukan cinta dan kebaikan orang lain?

Saya mau cerita dulu… Seorang temen saya udah lama banget belajar seni teater & bermain peran. Pas kumpul bareng temen, kalau dia cerita, sekalipun itu beneran nyata, kami selalu curiga dia cuma bermain peran. Cuma pura-pura. Tak jarang jadi bahan bercanda: “Maklum pemain teater.”

“Sekalipun itu beneran nyata, kami selalu curiga dia cuma bermain peran. Kenapa?” Karena dia udah lama banget belajar seni teater & bermain peran. Begitu pula mungkin yang terjadi dalam hal: Kita suka meragukan cinta & kebaikan orang lain. “Maksudnya gimana?”

Sekalipun beneran dicintai, atau ada yang berbuat baik, kita cenderung meragukannya & tak percaya. “Pasti ada maksud, modus. Pasti pura-pura.” Kenapa? Mungkin karena beberapa kali mengalami begitu, lalu memukul rata semuanya begitu.

Tapi yang jarang disadari, penyebab lainnya adalah… Karena kita sering diajari untuk mencintai dan berbuat baik.

Kok bisa?

Sejak kecil, begitu sering kita diajari untuk mencintai, berbuat baik, jangan menyakiti & membenci. Orang lain juga diajari serupa. Sehingga kita menganggap cinta itu bisa jadi rekayasa, tak lagi apa adanya.

Tapi gimana kalau ada yang benci?

Sikap kita sebaliknya. Kita jarang bahkan tak pernah meragukannya. “Enggak mungkin dia pura-pura membenci. Dia pasti membenciku.” Ternyata kita lebih percaya benci daripada cinta. Tanpa sadar, kita merasa benci itu lebih autentik daripada cinta.

Jadi sadar, kalau saya jadi suka meragukan cinta & kebaikan orang lain… bisa jadi artinya saya terjajah oleh akumulasi ajaran cinta & berbuat baik yang ada di kepala sendiri. Penghalang besar merasakan cinta barangkali adalah ajaran mengenai cinta itu sendiri. Kalau saya tidak terjajah, saya jadi bisa memberi ruang kemungkinan:

“Kalau ada yang cinta, bisa jadi itu beneran cinta. Kalau ada yang benci, bisa jadi itu hanya pura-pura.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10

Mengapa Tidak Bahagia?

Tidak bahagia itu bukan karena penolakan, kehilangan, patah hati, sakit, tua, mati. Tapi tidak bahagia itu lebih karena kita merasa “aku” ini begitu ada. Tidak bahagia lebih karena merasa: aku ditolak, aku kehilangan, aku patah hati, aku sakit, aku tua, aku mati.

Jadi saya tahu, kalau saya mulai menjadi tidak bahagia, merasa menderita, artinya saya terhanyut oleh ego saya sendiri. Merasa “aku” begitu ada. Semakin saya berlatih menyadari bahwa “aku” ternyata tak seada yang saya kira, semakin saya mampu merasa damai, tenteram dan bahagia.

Saya tidak berusaha bodo amat dengan “aku”. Saya juga tidak berusaha menghilangkan “aku”. Karena yang menghilangkan “aku” bisa jadi juga adalah “aku”. Saya hanya berlatih menyadari “aku”, setiap kali “aku” itu muncul. Saya masih sering tak menyadarinya.

Saat ditolak, kehilangan, patah hati, tetap perih. Saat tubuh berdarah dan sakit, tetap sakit. Tua dan mati, tetap pasti terjadi. Saya tak bisa menghindari sakit, tapi saya bisa berlatih untuk tidak menderita. Berlatih menyadari “aku” tak seada yang selama ini saya kira.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

19

Terjebak dalam Labirin Pikiran Sendiri

Dulu saya mengira, agar bahagia, saat pikiran (-) datang, saya perlu menghajarnya dengan pikiran (+). Saat pikiran (+) datang, saya perlu menjeratnya agar tinggal menetap. Tapi ternyata, seiring waktu berjalan, saya sadari bahwa saya perlu melatih diri untuk tidak terlalu terjerat dengan pikiran. Mengurangi membenci pikiran [-]. Mengurangi menginginkan pikiran [+].

Karena pikiran bukan kenyataan. Pikiran itu fiksi yang saya ciptakan sendiri. Lalu saya musuhi sendiri. Dibikin sendiri, lalu dilawan sendiri. Lucu juga ya? 😀

Saya tidak menyadari terciptanya pikiran itu. Seringkali pikiran [+] memberi penghiburan. Seperti berpisah, lalu berpikir: Perpisahan ini pintu untuk bertemu orang yang lebih baik. Tapi kalau berlebih, ini bukanlah hal yang sehat. Kenapa?

Karena tanpa sadar, bikin saya kecanduan pikiran [+] itu. Membuat saya tak sadar akan kenyataan hidup ini. Akibatnya?

Saya sibuk hidup di dunia fantasi pikiran saya sendiri. Denial. Tidak menerima kenyataan. Sering tak sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Kayak zombie. Karena pada hakikatnya, setiap pikiran (- atau +) yang mengunci saya akan membuat saya menderita. Pikiran itu akan membentuk pola dan jadi penghalang mata saya untuk melihat kenyataan seapaadanya. Saya jadi kesulitan untuk menerima kenyataan seapaadanya.

Di sisi lain, tanpa sadar saya terus menghindar untuk menerima kenyataan. Apalagi di awal-awal mengalami kenyataan yang enggak sesuai ingin. Kenapa?

Karena makin menerima kenyataan, makin tak terjerat pikiran, makin terasa pahit. Takut, cemas, yang berusaha ditekan dipendam makin terasa. Sehingga tanpa sadar saya milih untuk menekan memendamnya, juga melarikan diri dari perasaan-perasaan yang tak nyaman.

Padahal walau saya tekan pendam sedalam mungkin, melarikan diri sejauh mungkin, rasa takut dan cemas itu selalu ada. Merasa baikan sih, tapi enggak pulih.

Akhirnya saya sadari, ternyata untuk memulihkan batin saya perlu menerima kenyataan seapaadanya. Yang berarti perlu mengurangi cengkeraman pikiran. Mengurangi membenturkan pikiran [-] dengan pikiran [+]. Mengurangi menjerat pikiran [+]. Karena pikiran tidak bisa benar-benar memullihkan.

Saya perlu belajar menerima kenyataan. Tak terlalu larut dengan drama-drama pikiran. Sadari pikiran hanya sebagai pikiran. Bukan kenyataan. Dengan menerima kenyataan, maka akan jadi manusia seutuhnya. Dan hanya dengan jadi manusia seutuhnya, maka akan bisa benar-benar pulih.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

20

Mencintai Tapi Tidak Punya Cinta

Sebatas yang saya tahu, di kepala saya seolah terpatri sebuah hukum: Semakin saya mau mengorbankan diri untuk orang lain, semakin mulialah saya. Karenanya saya terus berusaha untuk memikirkan orang lain. Termasuk juga mencintai orang lain. Tapi kenyataannya, saya sering dipermainkan oleh usaha saya untuk mencintai orang lain. Ada satu pelajaran yang saya dapatkan yaitu: “Untuk benar-benar mencintai orang lain, mesti dimulai dari mencintai diri sendiri.”

Kalau saya tidak mencintai diri sendiri, lalu saya mencintai orang lain, berarti cinta yang saya berikan hanyalah kosong belaka. Cinta kosong yang hanya berupa kata-kata romantis berbalut nafsu diam-diam untuk memiliki dan menguasai, Hingga akhirnya berujung pada menyakiti dan kesimpulan prematur: “Cinta itu memuakkan. Aku tidak mau jatuh cinta lagi.”

Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Mungkin juga ini terjadi di banyak hubungan yang mengatasnamakan cinta. Saling mencintai, tapi sebenarnya sama-sama tidak punya cinta. Saya mengira orang yang saya cintai punya cinta. Bisa jadi orang yang saya cintai juga punya pemikiran yang sama, yaitu dia mengira saya punya cinta. Padahal saya dan dia sama-sama tidak punya cinta. Seperti sama-sama tidak punya uang, tapi saling meminta uang.

Hanya perihal waktu, kondisi sebenarnya akan ketahuan. Dan saya pun tak bisa menghindar dari betapa perihnya perasaan patah hati. Diri saya pun lihai untuk melakukan pembelaan diri yang konyol, dengan mengatakan bahwa saya telah tertipu, dikhianati, dibohongi. Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Akibatnya sama-sama dikuasai marah, hingga saling mencaci maki tak terkendali dan saling ingin menumpas dendam dengan balas menyakiti. Cinta yang dinanti-nanti malah berbuah benci. Dan ini semua ternyata karena berawal dari kurangnya mencintai diri sendiri.

Seringkali saya mengambil pilihan yang memberi cinta orang lain, padahal saya sendiri tak punya cinta karena saya tak ada usaha untuk mencintai diri sendiri. Karena saya terhanyut oleh pikiran, perasaan, dan keinginan saya sendiri. Karena tanpa sadar, saya takut untuk bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan akan cinta saya sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

17