Jalani Hari-hari ini dengan Belajar Diam

Dari banyak penyesuaian yang terjadi di masa #dirumahaja ini, yang cukup menantang buat saya adalah belajar untuk nyaman saat kegiatan mesti dikurangi. Belajar merasa tidak apa-apa saat gerak dibatasi. Belajar diam. Enggak ngapa-ngapain itu tidak apa-apa.

Ibu saya mungkin seperti kebanyakan orang tua, ngajarin saya bahagia itu ada di nun jauh di sana. Gimana cara meraihnya? Ya harus bergerak. Bahkan secepat mungkin geraknya.

Saat bertambah umur, pola pikir saya terjerat pada: Kalau mau bahagia ya harus bergerak, sesering mungkin, secepat mungkin. Saya risih kalau gerak saya dibatasi. Apalagi diam. Saya membencinya. Saya terperosok dalam: Satu-satunya cara biar bahagia adalah dengan bergerak. Bergerak, bergerak, bergerak… Tanpa pakai hati, yang menghalangi gerak saya ya harus minggir. Kalau enggak mau minggir, saya tabrak!

Setelah sekian lama, hati saya kok capek. Ternyata bergerak jadi cara saya untuk melarikan diri dari gejolak emosi yang perlu saya temui.

Karena sudah terlalu banyak gerak, mulai sekarang belajarlah berbahagia dalam diam. Kemampuan yang begitu indah untuk dilatih perlahan. Ajak dirimu untuk tidak terus-terusan bergerak. Gak harus selalu sibuk.

Beri waktu buat hatimu bergerak, memulihkan dirinya sendiri. Dan itu terjadi ketika tubuhmu duduk diam dalam sunyi.