Adjie Santosoputro : Mindfulness & Emotional Healing

4 Latihan yang Saya Lakukan Terkait Intisari Buku: Digital Minimalism – Cal Newport

“Hidup enggak bahagia bisa karena kecanduan social media. Karenanya saya belajar mengurangi bersocial media dan interaksi digital”.

Bagi kebanyakan orang, social media dan dunia digital tentu menjadi sebuah pengungkit agar lebih mudah mendapatkan berbagai yang diinginkan, dari uang, popularitas, sampai jodoh. Bagi sebagian orang yang lain, ini adalah tempat hiburan untuk melarikan diri dari penderitaan hidup. Namun bagi orang yang sadar diri, layaknya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus, ini pun bisa mempengaruhi kondisi batin, menjadi serba cemas dan tidak tenang.

Jujur, saya sendiri memproklamirkan diri untuk berada dalam barisan yang berlebihan bersocial media dan berinteraksi digital. Terlebih saya jadi kecanduan untuk mendapatkan retweet, like, comment, membuat saya merasa diakui. Kecanduan ini pun karena setiap ngepost, kita tidak bisa pastikan berapa dan apa respon yang kita dapatkan.

Bill Maher, seorang komedian, melemparkan guyonan yang saya rasa sesuai menggambarkan keadaan ini: “Rokok hanya menginginkan paru-paru kita. Tapi social media menginginkan jiwa kita”.

Menurut saya, saya perlu mulai belajar mengurangi bersocial media juga interaksi digital. Banyak buku yang membahas ini punya andil dalam pembelajaran saya. Tapi saya rasa, buku DIGITAL MINIMALISM – Cal Newport, bisa banyak membantu saya mengurangi bersocial media juga interaksi digital (meski seringkali saya masih berlebihan juga. Ora mari-mari. Hahaha)

Itulah sebabnya saya akan ceritakan 4 latihan yang saya lakukan:

1. Meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri
Dalam rangka latihan ini, saya secara berkala tidak membawa HP ketika pergi, atau menaruhnya di tas, dan tidak mengambilnya dalam kurun waktu tertentu. Ini akan lebih memberi saya kesempatan untuk berinteraksi dengan diri sendiri. Untuk berpikir dan berkreasi, orang-orang hebat ternyata sengaja meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Sedangkan sekarang, waktu untuk ini cenderung kita habiskan untuk sibuk mengurusi orang lain. Oiya, berinteraksi dengan diri sendiri tidak harus di tempat yang benar-benar sunyi dan sendirian ya.

2. Mengurangi interaksi di social media
Alasan klise yang sering saya gunakan untuk terus-terusan berinteraksi di social media adalah untuk menguatkan ikatan sosial. Tapi kenyataannya ini justru cenderung melemahkan ikatan sosial. Yang kita perlukan adalah bertatap muka dan interaksi nyata. Latihan yang saya lakukan adalah tidak setiap waktu membuka social media dan berinteraksi digital. Saya jadualkan hanya di jam-jam tertentu, juga di pagi hari misalnya, baru buka social media dan berinteraksi digital setelah jam 8. Atau malam hari, maksimal jam 8. Cuma resiko yang mesti saya terima: Ada banyak WA, DM, email, yang enggak sempat saya jawab.

3. Hiburan yang lebih mendalam
Tak salah memang menikmati hiburan yang mudah saya dapatkan. Namun saya sering lupa, bahwa hiburan itu bisa dibagi menjadi 2: Hiburan yang sebatas menyenangkan (menatap layar hp berjam-jam dan cenderung dilakukan dengan pasif), dan hiburan yang berkualitas lebih mendalam (berinteraksi dengan dunia nyata, berkarya menciptakan sesuatu, tubuh bergerak dan cenderung dilakukan dengan aktif). Ketika saya punya waktu luang untuk menikmati hiburan, saya berlatih untuk memilih hiburan yang berkualitas lebih mendalam. Beberapa hal yang sedang saya lakukan (lagi): Olahraga, yoga, main musik dan sulap 🙂

4. Menghemat energi perhatian
Energi perhatian kita terbatas, namun sekarang banyak hal berusaha meminta, bahkan mencuri perhatian kita. Dari iklan, berita, bisnis, politik, bahkan sampai terkait relasi. Kalau perhatian kita tercurah ke hal-hal yang enggak begitu penting, akibatnya hal-hal yang benar-benar penting malah kita abaikan. Mungkin latihan ini akan sangat berat untuk dilakukan, yaitu di mayoritas waktu saya berlatih untuk memberikan perhatian saya sebisa mungkin hanya pada hal-hal yang benar-benar penting. Tapi kadang di sela waktu saya juga suka pada hal-hal yang “receh”.

Saya juga percaya, kalau saya tidak mengupgrade hp saya, tidak mendownload aplikasi-aplikasi yang begitu canggih, maka interaksi digital saya pun jadi berkurang.

Karena secanggih-canggihnya teknologi adalah yang bisa memudahkan hidup manusia dan bukan malah bikin hidup manusia jadi tidak bahagia.


See all posts »

Subscribe: rss | email | twitter | +